Friday, July 29, 2011

PRISON AS A MUSEUM

This summer the sun doesn't come too often to the Netherlands, we have a lot of rainy and grey days. But luckily the Netherlands is a country with the highest density of museums. So it is perfect to visit museums on a rainy day. One of the most interesting museum for me is the Gevangenismuseum or the Prison Museum in Veenhuizen.


On 18 May 1975 the first Prison Museum in Veenhuizen was open and located in a concrete shed. This was possible because of a person named Standhart had passions to collect stuff and information. Thirty years later the National Prison Museum opened its door in a new location, a place where the prisoners were forced to work, a building from 1823, that was completely restored. Over the years the Museum becomes more professional and now has 24 staff, 90 volunteers and an active members organization. In 2007 this museum was chosen as the best historic museum of the Netherlands and in 2009 reached the highest record of visitors, around one hundred thousand people.


The Prison museum is all about criminality and misbehaviour and anything in between. "Sometimes a person ended up in the prison because of a bad luck, shit happens," the guide explained. But somehow this museum is succed to display unhappy stories in a acceptable way, not scary for common people and especially children. It is informative with statistic backups and a lot of lesson learned. For example is the section that shows creativity of prisoners in creating various type of means by using minimum materials, like a water heater from two spoons and a short cord.



This museum is not everything in Veenhuizen. They have also transformed buildings in the complex to be accomodation facilities, galleries, souvenir shops, coffee houses and large parking areas. Visitors can get into "prisoners bus" to have a tour to see whole complex. The general atmosphere is friendly and cozy. It is difficult to imagine how it looked like 30 years ago when public was not allowed to enter the area. All belongs to the Ministry of Justice and only if you worked for the prison, you may entered it.




The front part of the museum



Visitors may visit the former prison that has been empty for some time.


An isolation room

A simulation of a court in the museum

A lot of children visited this museum and they were kept busy by doing a quiz.



The accomodation facilities inside the prison area.


(Part of the text & picture: www.gevangenismuseum.nl)

Tuesday, July 19, 2011

RUH BANGUNAN BERSEJARAH

Pelestarian bangunan bersejarah di Indonesia identik dengan dana yang besar. Akibatnya, sedikit sekali bangunan bersejarah yang dilestarikan. Pertanyaannya apakah pelestarian memang selalu harus dimulai dengan perbaikan fisik yang memakan dana relatif besar? Jawabannya adalah tidak selalu harus demikian.

Perbaikan fisik pada tahap awal perlu dilakukan sebatas keamanan dan kenyamanan untuk memungkinkan dilakukannya berbagai aktivitas di dalam suatu gedung. Aktivitas itulah yang lebih perlu dipikirkan, didorong dan dilakukan secara terus menerus. Aktivitas itulah yang akan mengembalikan ruh sejarah suatu bangunan. Aktivitas itulah yang kembali mengingatkan mengapa kita ingin melestarikan suatu bangunan. Tanpa aktivitas yang terencana dan berkesinambungan maka pelestarian bangunan bersejarah hanya akan menjadi sebuah proyek, tanpa ruh dan tanpa rasa, sekalipun kelak kita mengubahnya menjadi sebuah museum.

Cara berpikir yang mengutamakan perbaikan fisik daripada aktivitas dalam konteks pelestarian bangunan bersejarah berkaitan dengan nilai dan konsep tentang keindahan dan kecantikan. Bangunan bersejarah yang indah dan cantik adalah yang dipoles mulus dan kelihatan baru. Kita tidak sadar bahwa lapisan-lapisan yang baru itu justru meniadakan sejarah suatu bangunan dan menghapuskan ruh yang dinafaskan melalui perjalanan waktu.

Mungkin sudah saatnya kita merubah pendekatan tentang pelestarian bangunan bersejarah dari kecantikan fisik kepada nilai-nilai yang lebih intrinsik. Pendekatan ini yang sekarang mulai banyak dilakukan di berbagai negara untuk mengatasi berbagai kendala finansial dan birokrasi.

Di sebuah kawasan industri di pelabuhan Rotterdam terdapat bangunan bernama HAKA. Gedung ini dibangun tahun 1932 sebagai kantor pusat koperasi pemasok bahan makanan seperti gandum, kopi dan semacamnya. Mereka menyediakan bahan makanan berkualitas dengan harga terjangkau untuk kepentingan masyarakat kelas pekerja. Arsiteknya adalah Hermann Friedrich Mertens (1885-1960). Kepercayaan diri dari gerakan koperasi di Belanda tercermin melalui bangunan ini yaitu bangunan pusaka industri (industrial heritage) tahun 1930-an dengan ornamen kaca patri yang indah yang secara heroik memperjuangkan hak-hak kaum pekerja.

Estrade/Vestia, perusahaan pengembang, merupakan pemilik bangunan HAKA. Setelah bertahun-tahun terlantar, Estrade/Vestia mengambil-alih bangunan ini bersama dengan Clean Tech Delta (asosiasi perusahaan yang mendorong teknologi ramah lingkungan) dan Stadshaven Rotterdam (lembaga pemerintah yang memfasilitasi peremajaan kawasan pelabuhan). Tetapi pemain utama yang mengembalikan nafas kehidupan pada gedung HAKA adalan Urban Breezz. Organisasi ini mengkhususkan dirinya dalam menghidupkan kembali bangunan-bangunan pusaka industri dan pusat-pusat kota yang sudah kehilangan masa jayanya. Caranya? Dengan berpikir dan bertindak radikal. Mereka tidak membuat ’masterplan’ dengan prosedur waktu yang panjang, melainkan ’planmaster’ yaitu segera mengeksploitasi bangunan dan mengisinya dengan berbagai kegiatan. Urban Breezz selalu memulai dengan gagasan yang ’kuat’ sehingga kelak menjadi ciri khas yang dikenal dan kemudian mulai merealisasikannya tahap demi tahap.

Kelak gedung HAKA menjadi pusat pengembangan teknologi air dan enerji yang ramah lingkungan, tetapi sementara impian tersebut masih berupa cita-cita, gedung HAKA dieksploitasi menjadi tempat resepsi, auditorium, ruang pameran, kantor dan ruang pertemuan. Eksploitasi itu dikerjakan bekerjasama dengan Kringloopcampus yaitu organisasi yang memperkerjakan orang-orang yang terpinggirkan (karena alasan kesehatan mental, sosial dan lain-lain) dan memanfaatkan barang-barang bekas. Hasilnya adalah kreativitas yang tidak memakan modal besar tapi menyegarkan jiwa.

Prinsip kerja mereka adalah mengolah barang-barang yang tidak terpakai lagi dari lingkungan sekitarnya, meminimalisir pengolahan teknis dan menyusunnya dalam bentuk baru dengan cara sesederhana mungkin. Ruang pertemuan disulap dari 24 pintu bekas, dinding pembatas dibuat dari tumpukan baju bekas dan podium dibuat dari tumpukan batubata tua. Restoran dibuat dengan memanfaatkan lemari-lemari kaca yang dibuang. Sementara di auditoriuam pembatas ruangan dengan akustik yang baik disulap dari 8.000 kilo tekstil bekas. Tekstil itu ditumpuk dengan permainan warna di atas sebilah papan dengan roda dibawahnya sehingga mudah dipindahkan.

Delian de Gier, penanggung jawab pemasaran dan komunikasi gedung HAKA, mengatakan bahwa interior gedung ini nyaris tidak memakan dana apapun. Semua bahan bekas diperoleh dengan cuma-cuma dan tenaga kerja tidak perlu dibayar karena menjadi bagian dari program reintegrasi orang-orang yang sulit mendapatkan pekerjaan.

Prinsip mengeksploitasi gedung bersejarah untuk berbagai kegiatan tanpa menunggu perbaikan fisik selesai seluruhnya dapat diterapkan dimana saja, termasuk di Indonesia. Yang hidup kembali bukan hanya gedung bersejarahnya, tetapi juga kawasan disekitarnya. Jika orang-orang berdatangan kembali dan melakukan berbagai kegiatan didalamnya, ruh sejarah akan hidup kembali dengan sendirinya. Tanpa banyak biaya, tanpa banyak prosedur, yang diperlukan hanyalah niat tulus dan semangat tinggi untuk melestarikan sejarah, bukan hanya fisiknya.#




Auditorium dengan furnitur dari kayu bekas.


Pembatas ruangan di ruang pertemuan yang sekaligus berfungsi untuk menggantung kertas hasil diskusi.


Ruangan yang tampak nyaman ini merupakan bagian dari gedung bersejarah HAKA yang hanya dibersihkan agar bisa dimanfaatkan sebagai ruang diskusi dan pertemuan. Pembatas ruangan adalah tumpukan baju bekas. Kursi dan meja dibuat dari kayu dan besi bekas.

(Foto: Remco Vermeulen)