Thursday, May 24, 2018

QUITO, ECUADOR, A TIRED WORLD HERITAGE CITY

Quito in Ecuador holds a world heritage city status since 1978 and it is the oldest capital in South America. It has been exactly a long 40 years in 2018. In Centro Cultural Metropolitano the municipality holds an exhibition about QUITO 2040, a vision for the city in the future. It adopted Sustainable Development Goals one to eleven. It is generic but it gives direction and explanation to the locals where the city goes. The city does its best to maintain quality of life and its historic city centre but age doesn't lie. Run down and empty buildings look depressing. Traffic congestion pressures pedestrians. Waste management is rather poor. Public bikes are broken. Quito needs drastic policies to regain its glorious past. 

The Getty Conservation Institute has assisted Quito between 1991-1997. Work included a photogrammetric study of historic buildings; investigation of the color history of building facades; environmental monitoring; conservation advice; and an international colloquium on the seismic retrofitting of historic buildings.

The reports about those efforts are very true and interesting to squeeze the lessons learned for other cities all over the world. I do hope that Indonesian cities that dream to nominate themselves as world heritage cities will learn first from Quito's experiences. 

I personally agree with those reports and analysis after walking through streets and alleys of the historic city center of Quito. It is hard to keep quality of environment in a long period if a city doesn't try hard to maintain every details of its infrastructure and doesn't assertive to enforce necessary laws and regulations. 

Despite challenges being a world heritage city, outside the historic city centre, Quito offers reasonable quality of life to its residents. A Sunday in the Carolina Park (Parque La Carolina), for example, is a place to be for all ages. The park has something for everyone: spaces for different kind of exercises, recreations, entertainments, religious speeches, food stalls or simply for doing nothing. It is very obvious what positive energy a park has for a busy city like Quito. 














KOTA PUSAKA DUNIA (2) : CUENCA, EKUADOR

Cuenca di Ekuador menjadi Kota Pusaka Dunia sejak 1999 karena dianggap mempunyai tatakota Renaissance gaya Amerika yang masih asli. Tetapi Cuenca juga menerima penghargaan lain dari UNESCO yaitu untuk Qhapac Nan, Rute Jalan Andes (situs pusaka dunia), topi anyaman Toquilla (pusaka dunia tak teraga) dan Taman Nasional El Cajas (situs alam dunia).

Di Ekuador kota ini dianggap sebagai kota yang paling menarik dan rileks. Penduduknya tidak lebih dari setengah juta orang oleh sebab itu kotanya tidak begitu padat. Tatakotanya sangat indah dengan empat sungai yang mengalir menyusuri semua bagian kota dan karena ketinggiannya sekitar 2500 meter di atas ketinggian laut maka hawanya sejuk sepanjang tahun. Di Cuanca kita tidak memerlukan mesin pendingin ruangan.

Walaupun Cuanca kota yang relatif kecil tetapi kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan edukatif di kota ini relatif baik. Pertama-tama jalur pedestrian bukan saja tersedia tetapi juga sangat nyaman dan indah untuk ditelusuri, terutama sepanjang Sungai Tomebamba. Skala kotanya sangat manusiawi karena hampir semua obyek sosial dan budaya (museum, restoran, universitas, perkantoran, pasar) terjangkau dengan berjalan kaki. Street art juga membuat kota lama semakin menarik karena grafiti bukan dibuat dengan kualitas tinggi. Grafiti favorit saya adalah dinding luar restoran bernama Seribu Satu Malam dan grafiti yang menggambarkan seorang pemain gitar elektronik.

Saya juga mengeksplorasi pasar tradisional di Cuenca. Buah-buah dan sayuran segar terlihat sangat menarik. Di lantai dua khusus untuk penjual makanan dan minuman khas Equador atau khususnya Propinsi Azuay karena Cuenca adalah ibukota propinsi ini. Yang baru bagi saya adalah penjual khusus produk-produk terbuat dari coklat karena Ekuador menghasilkan biji kakao terbaik di dunia. Di salahsatu stand coklat, batangan coklat dijual dalam bentuk balok-balok besar sekali. Kalau datang ke Ekuador tidak mencicipi coklat lokal, mungkin belum lengkap.

Tantangan untuk saya jika mengunjungi suatu tempat baru adalah menangkap dan memahami sense of place tempat itu. Sedapat mungkin sense of place yang dirasakan juga oleh warga lokal, oleh para pendatang yang akhirnya memutuskan tinggal menetap di tempat itu karena jatuh cinta dan merasa betah dengan banyak hal. Sense of place hanya bisa dirasakan melalui pemahaman dan pengalaman. Berjalan kaki, membangun kontak dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya membantu merasakan sense of place. Setelah beberapa hari di Cuenca saya cukup memahami memahami mengapa kota ini disukai dan dicintai banyak orang sebagai tempat tinggal dan mendapat begitu banyak status pusaka dunia. 





















GETSEMANI, A LIVELY NEIGHBORHOOD OF CARTAGENA. COLOMBIA










The buffer zone of a world heritage city like Getsemani in Cartagena, Colombia offers more realities than the core zone walled city Cartagena itself.

The core zone (the walled city of Cartagena de Indias) has transformed into a touristic and commercial district but unfortunately missing dynamic of local life and very quiet in the evening especially in residence areas. 

Getsemani, located few hundred meter outside the walled city, is on the contrary still intact as an urban living area with compounds and alleys occupied by the locals. Many of them transform some bedrooms into tourist accommodation and offer meals in the living room but not (yet) letting the tourists to dominate the scenes.

In the afternoon and evening the main square and alleys are filled with music, dance and street food. One or two fancy restaurants and accommodation facilities start to quietly occupy spaces but most are still in the hands of lower middle class owners who try their best to keep their properties look nice transformed into small restaurants, cafe or bed and breakfast. 

Wednesday, May 09, 2018

CARTAGENA, COLOMBIA

I visit Cartagena, Colombia, between 6-9 May 2018 to learn about this World Heritage City since 1984. The old city is surrounded by 13 km of fortress that in the past functioned as the largest slavery trading post in the South of America. No wonder that Cartagena breaths slavery history in its daily life even in 2018. Actually this year Cartagena celebrates influence of African legacy by creating various programs and developing African heritage trails. 


I met Alfonso Cabrera, the Head of Heritage Division in IPCC (Instituto de Patrimoni Y Cultura de Cartagena), a body that responsible for cultural heritage in Cartagena. He is a restoration architect specialised in fortification. His enthusiasm was very obvious about sharing and cooperation with other countries even as far as Indonesia with 450 fortresses. 

If you are interested in checking his doctoral research (he did in Spain), this is the link. 


Alfonso Cabrera, the Head of Heritage Division of IPCC

The evaluation and action plan of Cartagena de Indias World Heritage City 2018-2033

The office of IPPC


In his division, he is the only one who has a permanent position assisted by 25 staff with temporary contracts. Heritage is a tough business indeed. They in charge for 125 fortresses in Cartagena including monastery that used to be transformed into jails. In the old city, they in charge to control and to assist 1700 historical built heritage which are only 20 of them belong to government and the rest are owned by private sector and church institutions. 

Although Cartagena has received a World Heritage Status in 1984 but they have to be alert continously since new development never stops. This year they have organized a conference to evaluate their ups and downs with policies and practices. The result is a new breath of action plan and policy until 2033. 

I think Cartagena can be an interesting comparison for other fortressed cities in the world.  


KOTA PUSAKA DUNIA

Saya ingin membagi pengalaman saya dengan kota-kota dan kabupaten-kabupaten di Indonesia yang saya kira semua bermimpi suatu hari bisa mengajukan nominasi sebagai Kota Pusaka Dunia. Indonesia belum mempunyai kota pusaka dunia sampai saat ini tetapi Jakarta dan Sawahlunto sudah mengajukan nominasi. Mempersiapkan nominasi itu rumit dan perlu nafas panjang tetapi memikirkan rencana manajemen kota pusaka jangka panjang dan menerapkannya jauh lebih rumit dan menuntut komitmen tinggi.

Pertama kali saya mengikuti diskusi tentang dinamika pengelolaan kota pusaka dunia yaitu di awal tahun 1990-an di Kota Pusaka Li Jiang di Cina. Li Jiang menjadi living museum, ditinggalkan penduduk lokalnya kecuali orang-orang yang sudah sangat tua yang harus terus bekerja di sektor pariwisata melayani arus deras turis dari seluruh dunia.

Setelah itu saya mengunjungi banyak kota pusaka dunia lain dan melihat berbagai dinamika dan tantangan pengelolaan tempat-tempat yang mendapat status pusaka dunia. Tahun 2018 saya mulai dengan mengunjungi Galle Fort di Sri Lanka pada bulan Maret dan sekarang saya sedang berada di Cartegena di Kolombia.

Selain itu saya tinggal di Amsterdam yang mendapat status sebagai kota pusaka dunia sejak tahun 2010 sehingga saya bisa melakukan pengamatan sehari-hari tentang dinamika sebuah kota pusaka dunia. Banyak pelajaran yang bisa diambil dan kasusnya berbeda-beda. Amsterdam adalah salah satu contoh yang relatif baik karena statusnya masih baru dan berkesempatan mengambil hikmah dari kota-kota pusaka dunia lain yang sudah jauh lebih lama bergulat dengan manajemen penyeimbangan antara kepentingan lokal dan serbuan wisatawan asing. Namun tempat-tempat yang lain saya melihat masih sering terjebak pada pola manajemen yang sama yaitu mendahulukan wisatawan dan menomorduakan kepentingan penduduk lokal.

Fenomena umum yang terjadi adalah pengambilalihan ruang dan prioritas dari penduduk lokal oleh wisatawan baik asing maupun domestik. Properti dan lahan dipindahtangankan, kegiatan ekonomi difokuskan pada pariwisata, lambat laun terjadi pergantian posisi antara pendatang dan penduduk lokal.

Transisi pergantian peran tersebut tanpa disadari mengikis sense of place . Tanpa dinamika kehidupan penduduk lokal, hilang juga semangat, ruh dan jiwa suatu tempat. Padahal sense of place itu yang menjadi nilai intrinsik yang membuat suatu tempat unik dan mendapat status sebagai pusaka dunia. Pusaka teraga seperti bangunan dan infrastruktur mungkin ada dan sudah dilestarikan tetapi tanpa jiwa, tanpa gairah, tanpa kehidupan lokal. Kosong. Sepi. Hilang.

Saya banyak merenung dan memikirkan fenomena ini. Perlahan-lahan saya mulai melihat akar masalahnya. Tentu saja banyak sudah referensi yang membahas mengenai dinamika manajemen kota pusaka dunia tetapi ini adalah pendapat saya pribadi dengan segala kerendahhatian dan orientasi kepada hal yang praktis. 

Menurut saya jika suatu tempat mendapat status sebagai pusaka dunia maka kebijakan yang sebaiknya diadopsi adalah penguatan dan pemberdayaan penduduk lokal karena itulah modal dasar status pusaka dunia.

Seorang kepala daerah bisa membentuk dua macam lembaga sumber pendanaan dan kebijakan yaitu:

1. Kebijakan dan Dana Abadi (revolving fund) untuk pemeliharaan pusaka fisik;
2. Kebijakan dan Dana Abadi untuk pemberdayaan pusaka non-fisik (pusaka tak teraga seperti tradisi, produksi kebudayaan dan sumberdaya manusia).

Penduduk lokal adalah "raja" di rumah mereka sendiri dan mendapat prioritas dalam pemeliharaan status pusaka dunia. Dengan adanya skema dana abadi para pemilik bangunan tidak perlu tergiur menjual properti mereka kepada investor dan pindah ke tempat lain. Mereka adalah penjaga gawang dan bagian penting yang harus tetap mampu melanjutkan kehidupan mereka setelah penganugerahan status pusaka dunia. Peraturan dan kebijakan pasti bisa diatur untuk pengelolaan dana abadi jika memang ada itikad untuk memprioritaskan penduduk lokal dan menganggap mereka itu bagian yang tidak terpisahkan dari status pusaka dunia. Betapa banyaknya situs dan kota pusaka dunia menjadi living museum dan kota hantu jika penduduk lokalnya pindah. 

Kedua adalah dana abadi untuk pemberdayaan pusaka non fisik. Dana ini dimaksudkan untuk mendukung usaha-usaha kewiraswastaan yang memunculkan tradisi dan identitas lokal. Bentuknya bisa dalam bentuk kuliner, kerajinan, produk kreativitas, segala bentuk karya seni, permainan tradisional, kebiasaan lokal dan banyak lagi. Dana ini juga untuk pemberdayaan sumberdaya manusia dan kelembagaan yang terlibat dalam seluruh usaha pelestarian pusaka non fisik itu. Dengan cara ini penduduk lokal adalah pemain utama di rumah mereka sendiri dan tidak terdesak serta terpinggirkan oleh investor-investor baru. 

Setelah penduduk lokal diberi prioritas maka hal lain yang mendesak untuk dikelola adalah arus wisatawan. Tentu saja menggiurkan untuk mengundang wisatawan sebanyak-banyaknya demi keuntungan ekonomi namun perlu diingat bahwa setiap tujuan wisata mempunyai carrying capacity (daya tampung) yang terbatas. Oleh sebab itu arus wisatawan perlu diatur sesuai dengan daya tampung yang wajar. Secara jangka panjang hal ini juga akan menguntungkan dan positif bagi semua pihak. Saat ini kemajuan teknologi cukup memadai untuk mengatur semua elemen dinamika pariwisata baik di tingkat domestik maupun internasional. Jika manajemennya profesional daya tampung bisa diefektifkan untuk memberi manfaat maksimal bagi investasi lokal.

Dengan demikian hal-hal yang menjadi kunci utama adalah penduduk lokal, investasi lokal dan peningkatan kualitas kehidupan lokal. Jika ke-lokal-an diunggulkan dan diprioritaskan, dengan sendirinya wisatawan akan datang dan tidak akan ada habisnya sebagaimana yang diharapkan karena mereka menemukan apa yang mereka cari. 

Friday, May 04, 2018

KENAPA BERSEPEDA SANGAT POPULER DI BELANDA?

Belanda sangat terkenal sebagai negara sepeda. Semua ujung negara ini (memang luasnya hanya sekitar luas Jawa Barat sih) dihubungkan oleh jalur sepeda kira-kira 35 ribu kilometer. Ada organisasi yang namanya the Urban Cycling Institute katanya menerima sekitar 150 delegasi dari seluruh dunia setiap tahun yang datang ke Belanda untuk belajar bagaimana mentransformasi masyarakat cinta mobil menjadi masyarakat yang cinta sepeda. Organisasi ini tugasnya adalah "bringing knowledge on cycling from science to practice and back". Bagus ya visinya? 




Saya menghadiri pemutaran dan diskusi tentang karya mereka yang baru dirilis yaitu film dokumentasi dengan judul "Why We Cycle" hari Selasa, 2 Mei 2018. Film sepanjang satu jam ini memaparkan pengalaman pribadi para pesepeda di Belanda dan juga ulasan para ahli tentang sisi positif bersepeda. Jadinya memang film propaganda seperti disebutkan oleh seorang peserta diskusi dan diamini oleh Marco te Brömmelstroet (Associate Professor dalam Urban Planning di University of Amsterdam dan Academic Director of the Urban Cycling Institute).

Tapi lembaga ini tidak hanya membuat film propaganda, mereka banyak melakukan riset lain tentang sepeda dan budaya bersepeda. Jadi film ini memang hanya salah satu produk yang ditujukan untuk negara-negara asing yang penasaran kenapa orang-orang di Belanda senang dan rajin bersepeda. Website mereka sangat menarik untuk dibaca-baca.

KONTEMPLASI BATIN SEBUAH BANGSA (2)

Kamis, 3 Mei 2018, udara hangat dan cerah (suatu keistimewaan di Belanda) diisi dengan menghadiri diskusi tentang "The Long Decolonization of Indonesia" (Dekolonisasi yang Panjang di Indonesia). Ini adalah riset dan buku yang ditulis oleh Els Bogaerts dan Remco Raben. Tempatnya di NIAS (The Netherlands Institute for Advanced Study in the Humanities and Social Sciences), Amsterdam. 





Saya menghadiri diskusi ini dengan beberapa alasan. Pertama, Remco Raben adalah peneliti dengan spesialisasi imperialisme dan dekolonisasi yang banyak menulis tentang Indonesia. Kedua, saya merasakan kebutuhan untuk mempelajari  perspektif Belanda tentang Indonesia pasca Kemerdekaan.  Jika saya memahami perspektif Belanda maka saya akan bisa mempertajam pemikiran saya tentang perspektif Indonesia. Ketiga, karena pekerjaan saya sehari-hari adalah berkaitan dengan kerjasama antara Indonesia dan Belanda dalam kerangka pusaka bersama maka saya perlu banyak pengetahuan, pengalaman dan masukan. Banyak hal yang belum saya pahami. Suatu proses belajar yang tidak pernah selesai.

Jadilah saya duduk di Ruang Konperensi NIAS di tengah kota Amsterdam mendengarkan presentasi Remco Raben. Dari begitu banyak hal yang disebut, ada ssatu hal yang menjadi sebuah konfirmasi bagi saya yaitu bahwa kolonialisme di masa lalu adalah bagian dari identitas Bangsa Belanda. Wow...saya seperti melayang mendengar pernyataan ini karena merupakan konfirmasi dari pikiran dan pengalaman sehari-hari saya secara pribadi maupun profesional tetapi bentuknya masih kabur dan abstrak. Tapi begitu mendengar pernyataan dari Remco, ada kelegaan yang amat sangat dalam diri saya. Banyak kepingan puzzle yang tiba-tiba menemukan tempatnya yang pas dan cocok di kepala saya. Mungkin saya harus menulis buku untuk meruntut puzzle itu. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini apa isi puzzle itu karena merupakan akumulasi hidup dan pekerjaan saya. 

Hal lain yang menarik dari diskusi ini adalah audiens dari berbagai negara sehingga isi diskusinya sangat kaya perspektif dan luas sekali jangkauannya tanpa terjebak pada sentimen emosi pribadi tentang kolonialisme. Audiens yang heterogen meningkatkan kualitas jangkauan pemikiran. 

Semoga akan banyak lagi diskusi yang bagus seperti ini. 

Thursday, May 03, 2018

PETA ORGANISASI INDO DI BELANDA

Ketika saya dtang ke Belanda tahun 2005 saya berkenalan dengan istilah pusaka bersama (shared heritage atau gedeeltelijk erfgoed) dalam pekerjaan saya. Itu adalah istilah yang secara resmi dipakai di Belanda yang merujuk pada pengaruh dan peninggalan Belanda di negara-negara bekas jajahannya atau negara-negara yang pernah mempunyai hubungan dagang. Ternyata banyak juga negara dalam daftar yang berbagi pusaka dengan Belanda sehingga Belanda menetapkan 10 negara saja yang mendapat prioritas untuk kerjasama. Negara-negara itu adalah India, Sri Lanka, Indonesia, Jepang, Australia, Rusia, Afrika Selatan, Amerika (New York dulunya adalah New Amsterdam), Brazil dan Suriname.

Kerjasama dalam bidang pusaka bersama dengan Indonesia banyak sekali karena Indonesia adalah  negara bekas jajahan yang relatif besar dan lama hubungannya dengan Belanda di masa lalu. Tidak heran kalau banyak dan jelas sekali pengaruh dan peninggalan Belanda di Indonesia. Beberapa contoh kerjasama tersebut bisa dilihat di website Dutch Culture atau RCE (lembaga Belanda dalam bidang pelestarian pusaka). Itu adalah dua lembaga yang mengimplementasikan kebijakan pusaka bersama antara Belanda dengan ke sepuluh negara prioritas, selain dari kedutaan besar Belanda di negara masing-masing. 

Namun sebagaimana istilah pusaka bersama, sudah semestinya kebersamaan itu dimiliki oleh kedua pihak. Jadi bukan saja pengaruh dan peninggalan Belanda di Indonesia tetapi juga sebaliknya yaitu pengaruh dan peninggalan Indonesia di Belanda. Interaksi dua sisi. 

Kalau orang Indonesia ke Belanda pasti dengan mudah merasakan suasana ke-Indonesia-an itu ketika melihat banyaknya toko makanan dan restoran Indonesia. Atau ketika berbincang-bincang dan keluar kata-kata Bahasa Indonesia. 

Tapi kalau mau menggali lebih dalam sebenarnya pengaruh Indonesia di Belanda lebih dari hanya soal makanan dan bahasa. Ikatan politis dan sosial kedua negara terjalin dari eksisnya berbagai komunitas yang langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan Indonesia.



Baru-baru ini terbit buku "Een Indische Skyline: Indische Organisaties in Nederland Tussen 1980 en 2010" (Langit Indo: Organisasi Indo di Belanda antara Tahun 1980 dan 2010) karya Fridus Steijlen. Buku ini memberikan gambaran tentang organisasi, kelompok dan gerakan yang berkaitan dengan Indonesia atau lebih spesifik orang-orang yang terkena dampak sampingan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Klasifikasi dan pemilihan organisasi, kelompok dan gerakan dari kacamata Belanda oleh sebab itu kata yang dipakai dalam judul adalah "Indo" bukannya "Indonesia". Menarik untuk dibaca dan dipikirkan kembali.

Yang saya tidak temukan dalam buku ini adalah kelompok orang-orang Indonesia asli dan seratus persen berdarah Indonesia yang memilih tinggal di Belanda secara sukarela, tidak ada kaitannya dengan  akibat sampingan Proklamasi Indonesia, generasi yang tidak mengalami perang Revolusi dan juga bukan keturunan KNIL atau semacamnya. 

Mungkin kelompok Indonesia asli dan relatif muda ini tidak menarik untuk dibahas dari sudut pandang Belanda.  Namun karena DNA-nya Indonesia jadi mau tidak mau mengalami dan menyaksikan juga pengaruh dan peninggalan Indonesia di Belanda yang namanya pusaka bersama itu. Akan sangat menarik untuk menganalisa apa yang dipikirkan, diketahui dan dirasakan orang-orang Indonesia di Belanda tanpa sentimen masa lalu. 

Tuesday, May 01, 2018

SINGAPORE HERITAGE FESTIVAL 2018

This is a dream of mine about Indonesia. That one day there will be a heritage festival to showcase the country industrial heritage. Like in Singapore this year.



One of the program is showing the local sugar industry. Traditional snacks like the South Indian string hoppers, putu mayam, are often served with a generous helping of orange-coloured sugar. The sugar is processed at the Cheng Yew Heng Candy Factory in Senoko, Singapore, where it was first turned orange in the 1950s. The company started out producing preserved fruits and Chinese candies in 1947.

The Cheng Yew Heng is one of the biggest suppliers of refined sugar here, with 60 per cent of the market share and the only rock sugar manufacturer in Singapore.

The 15th edition of the Singapore Heritage Festival will take participants on a tour of the home-grown company to learn about the production process and "how the company manages to hit that sweet spot between tradition and change".

There will be guided tours of Jurong Town Hall - a symbol of Singapore's successful post-independence industrialisation programme. Sited on a hill, the futuristic building, reminiscent of a ship, was gazetted a national monument in 2015 .

 The monument will host an immersive roving performance by theatre group Sweet Tooth that takes visitors through the Jurong story with music, song and storytelling. Visitors will get the chance to interact with characters of Jurong's past. They include a rubber plantation worker and a soldier.

The festival also aims to showcase the eclectic mix of businesses and creative entrepreneurs in Jalan Besar. The programme includes guided architectural and food tours, and a market showcasing local talents including artists, designers and craftsmen. 

(Source: The Strait Times, Melody Zaccheus)