Monday, April 30, 2018

KAITAN CUACA BURUK DENGAN MUSEUM

Cuaca buruk (mendung, hujan, angin) identik dengan cuaca di Belanda. Kalau sedang cuaca buruk di hari Minggu enaknya main ke museum karena hangat dan kering. Apalagi pakai kartu museum masuk gratis. Untungnya di negara yang "hanya" sebesar Jawa Barat ini jumlah museum cukup banyak yaitu 694 museum. Jadi kalau mau tiap hari ke museum selama setahun penuh pun masih belum semua museum akan terkunjungi. Tidak heran kalau Belanda adalah negara dengan kepadatan museum tertinggi di dunia menurut perbandingan antara luas geografis dengan jumlah museum. 

Mumpung sedang bicara statistik, walaupun penduduknya hanya sekitar 16 juta tapi jumlah total pengunjung museum di Belanda adalah 34,4 juta orang. Jadi pengunjung museum lebih dari dua kali lipat populasi penduduknya karena banyak turis dan banyak juga warga lokal yang rajin bolak balik ke museum. 

Menurut saya resep kesuksesan museum di Belanda ( dan di negara-negara lainnya) adalah pertama-tama museum itu harus nyaman. Kenyamanan itu dari segi temperatur ruangan, kebersihan, fasilitas umum (tempat penyimpanan barang, kamar kecil, tempat duduk menunggu, kafetaria, restoran dan toko suvenir) serta pembagian ruangan dan arus pengunjung. Kalau parkir banyak museum yang tidak menyediakan tempat parkir di Belanda terutama di kota-kota besar karena aksesibilitas dengan kendaraan umum sangat baik. 

Jika faktor kenyamanan diutamakan, saya yakin museum-museum di Indonesia juga akan populer menjadi tujuan wisata. Memang banyak hal dari segi manajemen, program dan kebijakan yang perlu dibenahi tapi sebelum sampai ke hal-hal yang "njelimet" begitu, pihak pengurus museum bisa mulai dengan hal-hal yang praktis dulu seperti kenyamanan bagi pengunjung. Museum yang adem dingin, bersih tidak berdebu dan menyediakan fasilitas umum yang memadai dan profesional pasti akan menarik banyak pengunjung. Museum yang bikin betah. 

Minggu 29 April 2018 yang gelap, hujan dan angin tidak berhenti-henti, saya pakai untuk mengunjungi dua museum di Amsterdam, yang dekat rumah saja. Ramainya minta ampun tapi senang melihatnya karena memang museum harus ramai. 

Tropen Museum : Pameran tentang Perbudakan

Tropen Museum : Pameran tentang Body Art


Tropen Musem : Pameran tentang Fashion Cities Africa

Tropen Museum : Pameran tentang Afro Futurism

Tropen Museum : Workshop untuk Anak-anak

Tropen Museum : Enak kan di museum bisa duduk, tiduran, lari-lari...

Micropia : Museum tentang Bakteri dan Virus







Saturday, April 28, 2018

JOYFUL TRADITION

Many discussions about monarchy in the Netherlands but I think nobody objects that 27 April is an official national holiday to celebrate the birtday of the King (or before the Queen). 

I am fascinated to observe joyful atmospheres everywhere. People laugh, sing, dance, drink, eat, walk, repeat. The King's birthday might be accused as an excuse, but it is a good excuse to enjoy life. 








MAN-MADE NATURAL HERITAGE

When a country is relatively small and has limited natural resources, like the Netherlands, there must be something else has to explored. Tulip flower is one of them. Perseverance and professionalism show that everything is possible including attracting million of tourists each year to see this flower around April-May. 

I live 13 years in the country and 13 times cycling around the bulb fields of Tulip. It is an annual tradition. The magic of this man-made natural heritage is never diminished. 




Friday, April 27, 2018

RISE AND FALL OF SUGAR INDUSTRY IN INDONESIA


Sugar Factory Olean, Situbondo, East Java, Indonesia (Source: Het Rozenhuis)

The Sugar Industry in Java as shown during the International World Exhibition in 1910 in Brussels, Belgium (Source: J.W. Ramaer) 

Heritage hands-on is selected as one of the participants “Sharing and Collaborative: The Footprints of Asian Sugar Industrial Heritage” is a part of the international symposium on “Multilateral, Sharing and Collaborative: Developing a Common Vision of Asian Industrial Heritage.”

This event will take place in the Cultural & Creative Industries Park, Taiwan, 30th May – 31st August. The organizer is the Bureau of Cultural Heritage Ministry of Culture, Taiwan and it is implemented by National Yunlin University of Science & Technology Department of Cultural Heritage Conservation.

Heritage hands-on will present the exhibition about "Rise and Fall of Sugar Industry in Indonesia".  

In the 1930’s Indonesia was the world second largest sugar exporter in the world after Cuba. In 2016 Indonesia was and is the world second largest sugar importer in the world after the USA. How this could happens?

Many analysis tried to provide answers to the above question. This exhibition will show facts and figures as an objective answer to understand ups and downs of sugar industry in Indonesia. Those facts and figures help viewers as well to predict potential former sugar factories as part of industrial heritage in the country. It is huge and in abundance, tangible and intangible elements of sugar production world, entangled with economic, social, cultural and politics of Indonesia.

Currently, there are about 33 sugar factories older than 100 years and this fact assures that the industry can play an important role in raising awareness about industrial heritage in Indonesia. There is no doubt about what the sugar industrial heritage can contribute to the current education and economic development.

The exhibition consists of chronology of sugar industry emporium during the era of the Dutch East Indies and after Independence, supported by milestones in the sugar history as follow:

1.      Application of the Cultivation System
2.      Building of the Headquarter of Sugar State-Owned Enterprise (HvA)
3.      Publication of a book about anti-forced labor titled Max Havelaar
4.      Profile of Probolinggo, one of the former Sugar Towns in East Java
5.      The First Adaptive Reused of Former Sugar Factory Colomadu
6.    Sugar Industry in Java (as shown in the International World Exhibition 1910 in Brussels)
7.    Film about the Sugar Factory Olean (the only factory that still run steam engines)

This is a continuation of awareness efforts that Heritage hands-on has been doing since 2013 about industrial heritage in Indonesia. There are presentations and paperworks have been delivered in Europe and Asia including in Indonesia about assets and potentials industrial heritage that needs attentions before they fall aparts and disappears. 

Sumatra Heritage Trust (BWS) from Medan is also selected as participant of the exhibition in Taiwan 2018 showing theme of  Sugar Industry Development Project outside Java with a case study of history and details of daily life of Sei Semayang sugar cane plantations and sugar mills in Sumatra. 

Heritage hands-on would like to express gratitudes to many persons who have supported for the exhibition: Yulia Setja Atmadja, Krisnina Maharani A. Tandjung and Warna Warni Indonesia Foundation, Dr. Yuke Ardhiati, Obbe Norbruis, Pieter Veraart and Het Rozenhuis and Peter Timmer.





Thursday, April 26, 2018

KONTEMPLASI BATIN SEBUAH BANGSA

JP COEN, DAENDELS, VAN HEUTZ DI AMSTERDAM
(Source:  Wikipedia Common)



Rabu, 25 April 2018, di Rijksmuseum Amsterdam diadakan diskusi tentang kolonialisme oleh Stichting Deandels (Yayasan Deandels). Judul acaranya tentang patung-patung dan peninggalan masa kolonial di masa sekarang (Postkoloniale Beeldenstormen) tetapi isi diskusinya kemudian meluas kepada hal-hal terkait lain seperti isu perbudakan, kerja paksa, pengembalian koleksi museum dan tanggung jawab moral sebagai bangsa yang pernah menjadi penjajah. 

Gert Oostindie, Direktur KITLV, memberikan presentasi dan menjadi pembicara utama, didukung oleh tim panel yang terdiri dari profesional di bidang museum, pendidikan dan akademisi. 

Buat saya pribadi, hal yang baru adalah eksisnya Yayasan Daendels. Hebat sekali ya dengan imej Deandels yang begitu buruk dan hitam ternyata ada juga sisi lain yang masih bisa digali dan dipromosikan. Kedua, kesadaran yang muncul dalam diskusi bahwa sebagai negara yang pernah menjajah Belanda memang harus melewati proses kontemplasi batin yang panjang. Proses kontemplasi batin itu direalisasikan melalui banyak sekali diskusi, tulisan, buku, acara televisi, radio, penelitian, pembentukan institusi dan macam-macam lagi. Kalau mau didaftar bisa setiap hari dicatat ada saja acara atau berita yang muncul. 

Kadang-kadang saya membatin sendiri, bagaimana di Indonesia? Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh bangsa Indonesia di tahun 2018 ini tentang masa penjajahan Belanda (dan Jepang dan negara-negara Eropa lain seperti Portugal, Inggris dan Spanyol)? Sudah melampau evaluasi batin yang tuntas? Sudah tenang dan menerima masa lalu dengan damai? Atau menutup mata, dan membuka lembaran baru saja?

Kontemplasi batin megenai kolonialisme akan indah kalau orang Belanda dan Indonesia duduk sama-sama. 

Wednesday, April 25, 2018

WELCOME YULIA!

Until June 2018 Heritage hands-on hosts Yulia Atmadja as an intern. Yulia is a promising young professional from Indonesia with an international orientation. 

Heritage hands-on is going to join an exhibition in Taiwan during the period of May-August 2018 about  “Sharing and Collaborative: The Footprints of Asian Sugar Industrial Heritage” and Yulia helps to design the exhibition materials. 

It is always inspiring to work together with a younger generation : full of spirit, a lot of ideas and open to the world. 

Tuesday, April 24, 2018

TAHUN PUSAKA EROPA 2018

Uni Eropa memperingati 2018 sebagai Tahun Pusaka Eropa. Initiatif ini mendorong kesadaran dan kerjasama antarnegara anggota Uni Eropa tentang identitas dan kekayaan budaya di Benua Eropa. Setiap negara anggota Uni Eropa mengorganisir berbagai kegiatan sepanjang tahun. Mungkin hal yang sama bisa menjadi inspirasi untuk Asia dengan berbagai macam asosiasi regionalnya seperti ASEAN.

Hal yang bisa menjadi inspirasi mungkin melihat berbagai macam foto dan video yang bebas untuk disebarluaskan melalui link ini.




Pusaka Teraga di Matura, Praha


Pusaka Tak Teraga di Irlandia 

Monday, April 23, 2018

LIGHT, AIR AND SPACE

Cornelis van Eesteren (Cor) (1897-1988) is the pioneer of modern architecture in the Netherlands. He is the generation mate of Le Corbusier. Cor was the Chairman of CIAM (International Congresses of Modern Architecture) from 1930 to 1947. One of his prominent works is the Amsterdam General Extension Plan which left its footprints until now in many parts of the city.

Last weekend, 22 April 2018, Van Eesteren Paviljoen in Amsterdam organized a presentation and a walk in the West of Amsterdam to learn about his works. I appreciated much of his thinking about rights of common citizens to light, air and space. Those elements are very essentials for quality of life and happiness of everyone and not only the happy few. 



TRANSFORMASI BEKAS PENJARA DI AMSTERDAM

Penjara "Bijlmerbajes" di Amsterdam yang dibangun tahun 1978 sudah mencapai tanggal kadaluarsanya. Para tahanan dipindahkan ke penjara baru yang lebih modern di luar kota dan bekas gedung penjara dijual. Luasnya 7,5 hektar dengan kapasitas 135 ribu meter persegi di dalam kota Amsterdam adalah tambang emas yang jadi impian setiap penanam modal. Lokasinya persis di samping jalur metro yang mencapai Centraal Station dalam waktu sekitar 10 menit dan stasiun Amstel yang jalur kereta apinya mencapai seluruh ujung negeri.  S-T-R-A-T-E-G-I-S. 

Tahun 2014 aset ini diiklankan akan dijual dan tahun 2016  aset ini sudah menjadi milik pihak swasta. Bagusnya semua proses penjualan diumumkan kepada publik melalui link ini. 

Pada tahun 2016-2017 bekas penjara Bijlmerbajes digunakan sebagai hunian sementara para pengungsi. Para pengungsi yang sudah mendapat status calon migran tetap di Belanda mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai kursus dan latihan agar siap masuk ke lapangan kerja dan berintegrasi dengan masyarakat Belanda. Berbagai kursus dan latihan itu dikelola oleh Refugee Company. Para pengungsi membuat aneka macam produk kreatif yang dijual untuk umum. Refugee Company juga membuka restoran dan cafe A Beautiful Mess sebagai tempat latihan di bidang hotel, cafe dan restoran. Selain itu para pengungsi juga mengelola hamam dan pop-up museum. Dalam waktu singkat tempat bekas penjara ini menjadi tempat yang populer untuk masyarakat Amsterdam sebagai tempat yang unik untuk minum kopi, menikmati makanan eksotik, mengapresiasi pertunjukan teater dan karya seni. Akhir tahun 2017 bahkan dibuka hotel di kompleks ini. 

Di awal tahun 2018 proses transformasi bekas penjara menjadi fungsi yang baru sudah akan dilaksanakan. Para pengungsi yang menghuni bekas penjara sudah dipindahkan ke rumah-rumah yang disediakan pemerintah. Namun kegiatan Refugee Company, restoran dan hotel masih jalan. 

Sabtu 21 April 2018 pihak swasta dan Pemkot Amsterdam memberi informasi kepada publik tentang apa yang dilakukan dengan bekas penjara Bijlmerbajes. Intinya kawasan yang namanya menjadi "Bajes Kwartier" (Kawasan Bajes) ini akan diubah menjadi kompleks hunian yang seimbang antara sosial dan komersial (30% hunian sosial dan 70% hunian komersil), unik dan ramah lingkungan. 

Unik karena nilai sosial historisnya bagi Kota Amsterdam. Nilai ini akan dilestarikan dengan cara menggunakan kembali  material bangunan yang dihancurkan dalam pembangunan gedung dan fasilitas yang baru.

Satu gedung penjara yang dilestarikan akan dijadikan semacam kebun vertikal untuk menanam produk-produk tanaman yang langka di Amsterdam.  Selain itu tempat ini juga dijadikan sentral pengolahan limbah buangan rumah tangga. 

Aspek budaya juga tidak dilupakan di sini. Kelompok seniman akan mempunyai kesempatan membuka galeri seni, mengelola sekolah desain dan museum.

Berita gembira adalah keinginan untuk memberi tempat pada para pengungsi untuk tetap beraktivitas di Bajes Kwartier. Setelah sekitar dua tahun membuka restoran dan cafe di sini, penduduk lama sudah merasa akrab dengan para penduduk baru Amsterdam, jadi kenapa tidak tinggal saja?