Friday, May 29, 2020

DUA PAHLAWAN PELESTARIAN AMSTERDAM

Ada dua orang yang saya jadikan panutan dalam hal pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah di Amsterdam: Paul Morel dan AndrĂ© van Stigt. Paul Morel adalah manajer proyek di Stadsherstel Amsterdam (the City Restoration Company of Amsterdam), sedangkan AndrĂ© van Stigt seorang arsitek spesialis konservasi yang mewarisi biro arsitek dari ayahnya, Bureau J. van Stigt. 

Keduanya bekerjasama pertamakali 38 tahun yang lalu menyelamatkan sebuah gereja bernama De Posthoornkerk . Setelah itu diikuti oleh proyek-proyek lain sampai mencapai 7 buah, semua dalam skala relatif besar dan signifikan dalam revitalisasi sebuah kawasan. Ketujuh proyek kerjasama itu adalah:
  1. Posthoornkerk
  2. NedPho-Koepel 
  3. De Hallen (Hal 17)
  4. Vondelkerk
  5. Pakhuis de Zwijger
  6. Haarlemmerpoort
  7. Muiderkerk
Dua orang ini sama-sama mempunyai idealisme memelihara identitas dan sejarah Kota Amsterdam melalui bangunan dan kawasan bersejarah. Idealisme itu didukung bukan hanya oleh pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni, tetapi juga oleh kepedulian pada komunitas lokal dengan segala dinamikanya seperti lapangan kerja, kohesi sosial, dan kehidupan budaya yang dinamis. 

Salahsatu prinsip yang saya petik dari keduanya adalah sebuah bangunan dilestarikan untuk fungsi baru yang sesuai. Jadi bukan melestarikan bangunan untuk fungsi baru. Prinsip ini diterjemahkan dalam ketujuh proyek di atas dan hasilnya memang terlihat nyata. Semua proyek itu bisa menghidupi dirinya sendiri, berkelanjutan dalam jangka panjang. Proses pelestarian yang baik dan benar direncanakan dan dihitung agar memberi keuntungan finansial dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat sekitar. Keuntungan finansial sangat penting untuk menjaga keberlanjutan proyek agar jangan sampai menjadi proyek yang mati di tengah jalan atau hanya ramai pada saat permulaan saja. Selain itu, keuntungan finansial juga memungkinkan untuk memberi penghargaan yang sesuai kepada semua ahli dan staf yang terlibat dalam proyek. Usaha pelestarian adalah kerja profesional yang ada standar dan aturan mainnya.

Setiap proyek di atas ada tautan websitenya jika ingin melihat gambar atau membaca lebih jauh. 

(Sumber: Stadsherstel Amsterdam, Bureau van Stigt).

Wednesday, May 13, 2020

15 TAHUN DI BELANDA : INTEGRASI


Menjadi migran memperkaya wawasan dan pengalaman, tetapi juga menuntut penyesuaian lahir batin. Jika diibaratkan komputer, maka harus di-reset, diprogram kembali agar sesuai dengan sikon lokal. Nyaris semua hal terasa baru dan tidak menjadi sesuatu yang otomatis lagi sebagaimana di daerah asal kita. Bahkan hal sehari-hari pun seperti sosialisasi dengan tetangga atau menghadiri pertemuan menjadi tantangan tersendiri untuk memahami apa yang diharapkan dari perilaku dan pembicaraan kita. Apalagi semua interaksi dilakukan dalam bahasa asing, dalam kasus saya dalam Bahasa Belanda, yang pasti tidak sefasih penutur bahasa ibu.



Dalam hal pertemanan dan sosialisasi informal, mental kita relatif lebih rileks untuk berhadapan dengan situasi dan orang baru. Kalaupun ada hal-hal yang kaku atau salah, bisa dihadapi dengan humor. Bukan berarti mendapat teman baru mudah di Belanda. Mereka umumnya baik dan ramah tetapi makna teman berbeda dengan Indonesia. Makna teman di Belanda kira-kira sama dengan sahabat baik di Indonesia. Jadi tidak mudah untuk menjadi teman bagi orang Belanda dan sebaliknya. Tetapi kalau mau menjadi kenalan, tidak masalah. Teman di tingkat basa-basi begitu kira-kira. Selama 15 tahun di Belanda saya mendapat banyak kenalan. Teman? Beberapa.



Dalam situasi yang formal seperti lingkungan pekerjaan, penyesuaian diri lebih menantang. Di awal-awal saya semangat sekali melamar pekerjaan ke sana ke mari. Saya pikir saya punya latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sesuai dengan posisi yang saya lamar. Di Indonesia saya nyaris tidak pernah harus melamar pekerjaan, jadi tidak punya dokumen  riwayat hidup yang lengkap. Di Belanda, selain harus belajar membuat riwayat hidup dan surat lamaran, juga meraba-raba dalam rimba lapangan pekerjaan yang tersedia. Posisi yang menarik banyak, tetapi kendala bahasa cukup mengerikan. Kedua, saya sangat polos berpikir bahwa saya memahami ruang lingkup deskripsi pekerjaannya. Untuk konteks Indonesia mungkin benar, tetapi untuk konteks Belanda sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Saya sering mendapat surat penolakan yang mengatakan bahwa kualifikasi saya terlalu tinggi untuk posisi yang dilamar. Saya belum pernah mendengar alasan begini di Indonesia. Jadi pendidikan tinggi ada sisi negatifnya juga di Belanda karena sulit melamar untuk posisi-posisi manajemen menengah ke bawah seperti asisten misalnya. 

Lama-kelamaan saya belajar dari sekeliling saya untuk mencari pekerjaan melalui uitzendbureau, biro tenaga kerja. Betul saja, minggu ini melamar, dua minggu kemudian sudah bisa mulai bekerja. Posisinya di bawah kualifikasi pendidikan dan pengalaman saya, tetapi sebagai tahap awal integrasi ke lapangan pekerjaan di Belanda sudah cukup baik dan menjanjikan. 

Dalam hal berinteraksi, hal yang menyenangkan adalah sifat egalitarian orang Belanda, terlepas dari latar belakang dan posisi, umumnya kita diperlakukan secara setara.  Gengsi-gengsian juga relatif  kurang berlaku di sini. Beberapa pejabat tinggi seperti walikota, menteri sampai perdana menteri naik sepeda ke kantor. Penampilan dalam hal pakaian juga jauh lebih simpel dibanding Indonesia. Pegawai pemerintah boleh pakai jeans ke kantor. Filosofi di belakang ini semua adalah sifat orang Belanda yang "nuchter" artinya seadanya sesuai akal sehat dan keperluan, tidak mengada-ada. Sifat ini diterapkan dimana-mana, termasuk dalam pembuatan kebijakan dan penerapannya. Misalnya mengutamakan pejalan kaki, pengendara sepeda, kendaraan umum, baru kemudian mobil. Itu kan kebijakan yang manusiawi dan logis, tidak mengada-ada.



Thursday, May 07, 2020

15 TAHUN DI BELANDA: BAHASA

Ketika saya menunggu dikeluarkannya izin tinggal sementara oleh Kedubes Belanda di Jakarta tahun 2004, saya mengambil kursus Bahasa Belanda selama tiga bulan. Lumayan untuk berkenalan dengan tata bahasa dasarnya. Ketika sampai di Belanda, menunggu sekitar setengah tahun untuk mulai kursus Bahasa Belanda sebagai bagian dari kursus berintegrasi dengan masyarakat Belanda (inburgering cursus). Jadi yang dipelajari bukan hanya bahasa tapi juga soal-soal lain yang esensial kehidupan sehari-hari seperti sejarah, kesehatan, tata cara berinteraksi, dan lain-lain. Tahun 2005 ini kursus wajib untuk imigran dan semua biaya ditanggung pemerintah. 

Belajar sebuah bahasa yang baru pada umur 40 tahun lain rasanya dengan belajar bahasa ketika masih umur 20 tahunan. Dibutuhkan enerji ekstra untuk menghafalkan kata-kata yang baru. Untungnya saya tinggal di negara penutur Bahasa Belanda jadi proses belajarnya relatif cepat. 

Mevrouw Loek dengan Dian
Selain kursus resmi di CEC (Cultureel Educatief Centrum-Pusat Pendidikan Kebudayaan) , saya mendaftar ke Gilde Amsterdam untuk latihan percakapan dengan sukarelawan penutur asli Bahasa Belanda. Sukarelawan yang ditunjuk untuk membantu saya namanya Loek Smeet, seorang biolog yang sudah pensiun mengajar dan tinggalnya dekat rumah saya. Prinsipnya memang anak didik dan guru harus tinggal berdekatan agar mudah bertemu. Maka kami janjian pertama kali bertemu di taman bermain Ganzenhoef, Amsterdam. Saya jadi bisa sekalian mengasuh anak yang waktu itu umurnya tiga tahun. Saya kira saya mengerti hari dan jam janji melalui telepon itu, ternyata saya salah mengerti. Untung pertemuan berikutnya berjalan lancar. Mevrouw Loek tidak berbahasa Inggris sama sekali sekalipun saya setengah mati susahnya mencari kata-kata Bahasa Belanda. Ini guru bahasa yang bagus. Program Gilde Amsterdam berjalan sekitar satu tahun tapi pertemanan kami berjalan terus sampai sekarang, 15 tahun kemudian. Tahun ini Mevrouw Loek genap berusia 80 tahun. 

Hal lain yang saya lakukan adalah melamar magang di kantor Pemkot Amsterdam bagian Tenggara (Amsterdam Stadsdeel Zuidoost). Ketika itu saya sudah tinggal sekitar 11 bulan di Belanda, sudah bisa bicara dalam Bahasa Belanda sedikit-sedikit. Tugas saya adalah meng-update database para migran wajib kursus integrasi. Bekerja di lembaga yang asli Belanda, bukan lembaga internasional, mengekspos saya pada Bahasa Belanda secara intensif.

Di rumah saya juga meminta suami untuk berbahasa Belanda dengan saya. Jawaban saya belepotan tidak apa-apa, yang penting latihan.

Tahun 2006 saya lulus kursus integrasi dn kursus bahasa dengan baik. Ijazahnya ditandatangani oleh Walikota Amsterdam yang saya kagumi waktu itu, Job Cohen, jadi saya senang sekali. Sesudah tahap awal ini dilalui, kehidupan yang sesungguhnya di luar sana sudah menunggu. Mencari kerja dan berintegrasi dengan kehidupan lokal. 

Sekarang, 15 tahun kemudian, Bahasa Belanda saya masih jauh dari sempurna tetapi saya sudah merasa nyaman memanfaatkannya untuk pekerjaan (mengikuti pertemuan, menulis surat, dan lain-lain) dan untuk membaca buku-buku serta arsip tentang Belanda maupun tentang Indonesia. Sebagai pekerja di bidang heritage asal Indonesia, banyak sekali manfaatnya memahami Bahasa Belanda. Kadang-kadang saya merasa overwhelmed dengan begitu banyaknya arsip tentang Indonesia. Seandainya saja, seandainya saja semua informasi itu bisa disebarluaskan juga di Indonesia. 


Dian dan saya di Volendam

Tuesday, May 05, 2020

15 TAHUN DI BELANDA: PEKERJAAN

Pada musim dingin 2005 saya pindah secara permanen ke Belanda karena pernikahan. Tetapi sebetulnya affair saya dengan Belanda sudah dimulai sejak tahun 1999 ketika muncul artikel di koran de Volkskrant edisi Sabtu, 23 Januari tentang Badan Warisan Sumatra (BWS). Artikel dua halaman penuh dengan alamat email saya sehingga membuka pintu persahabatan dengan beberapa orang Belanda yang secara pribadi mempunyai ketertarikan pada Medan dan Indonesia. Sejak itu saya diundang secara regular oleh beberapa institusi di Belanda, diantaranya NAi dan ICOMOS. Kalau saya bepergian ke belahan dunia lain yang melewati Eropa, saya juga selalu transit di Belanda.

Tiba di  Bandara Schiphol, Belanda, tahun 2005
Keluarga di Belanda, 2020

Sebagai orang Indonesia yang minat dan bekerja di bidang heritage, Belanda adalah surga karena arsip tentang Indonesia banyak di sini. Tapi sebelum bisa baca arsip, belajar Bahasa Belanda dulu. Jadi tahun pertama dan kedua saya kursus Bahasa Belanda dan kursus berintegrasi dengan masyarakat Belanda (inburgering cursus). Tahun 2006 kursus ini sifatnya wajib dan seluruh biaya ditanggung pemerintah. Pada saat yang sama saya juga melamar untuk magang di Pemkot Amsterdam bagian Tenggara namanya Stadsdeel Zuidoost sebagai asisten yang membantu-bantu memelihara basis data para imigran yang wajib kursus integrasi. Bahasa Belanda masih belepotannya minta ampun tapi belajar bahasa sambil menyelam langsung ke dalam kolam begini adalah cara yang cepat dan efektif. 

Cara lain untuk berintegrasi dengan cepat dengan masyarakat Belanda yang saya lakukan adalah melakukan pekerjaan sampingan, beberapa jam saja setiap minggunya, tetapi saya bisa mempraktekkan Bahasa Belanda, belajar tentang kontrak kerja, dan dapat uang saku. Pekerjaan sampingan yang pernah saya lakukan misalnya mengisi kodepos di komputer Post NL pada periode Natal dan Tahun Baru. Musim dingin, bekerja mulai jam 06.00 pagi dan lokasinya di ujung kota bagian Barat Amsterdam. Kalau berangkat masih gelap dan sepi sekali. Pekerjaan sampingan lain adalah membersihkan kantor pada sore hari setelah jam kantor. Kalau yang ini dekat rumah dan bisa naik sepeda sekitar seperempat jam. Saya dididik berdisiplin oleh dua orang tua dengan latar belakang militer jadi membersihkan kantor bukan hal yang sulit. Yang sebenarnya lebih perlu latihan adalah menurunkan ego diri sendiri. Pekerjaan terakhir saya di Indonesia adalah konsultan UNDP Jakarta untuk urusan Kota Berkelanjutan, tinggal di Jakarta sambil menunggu izin tinggal keluar dari Kedubes Belanda. Betapa kontrasnya antara membersihkan toilet kantor dan konsultan lembaga internasional. Pekerjaan sampingan lain yang saya lakukan adalah bekerja di katering untuk rumah sakit mempersiapkan makanan untuk para pasien. Semua pekerjaan sampingan ini sangat berharga untuk belajar rendah hati dan berintegrasi dengan masyarakat Belanda.

Ketika Bahasa Belanda saya sudah agak lancar, saya melamar kerja kantoran jadi asisten di sebuah perusahaan farmasi internasional. Tahun 2007 mencari pekerjaan kantor masih gampang. Hari ini melamar, dua minggu kemudian sudah bisa mulai kerja. Ini juga sebetulnya pekerjaan sampingan tapi kontraknya lebih permanen dan pekerjaannya lebih rutin. Saya masih punya sisa tenaga dan enerji untuk minat saya yang sesungguhnya, yaitu heritage.

Kalau minat dan semangat di bidang heritage saya salurkan dengan memikirkan apa yang saya bisa pelajari dari gerakan pelestarian di Belanda yang akan bermanfaat di Indonesia. Ide pertama saya membuat usulan kerjasama di bidang pendidikan warisan budaya (heritage education). Itu masih tahun 2007 ketika semua rasanya masih mudah. Proposal diajukan kepada jejaring saya di Belanda, tidak lama kemudian saya dikabari bahwa Kemendikbud Belanda bersedia mendanai untuk kerjasama dengan Indonesia selama dua tahun, 2008-2010. 

Setelah itu usulan demi usulan berjalan terus satu persatu. Saya menyadari bahwa gerakan heritage di Indonesia memerlukan banyak inspirasi, termasuk dari Belanda. Bukan untuk di copy paste, tetapi untuk gagasan bagaimana mencari manfaat dan adaptasinya sesuai konteks lokal Indonesia. Informasi detail mengenai usulan-usulan kerjasama antara Indonesia dan Belanda yang pernah dan masih berjalan sampai saat ini bisa dilihat melalui website saya : https://www.heritage-hands-on.org/

Antara tahun 2006-2007 saya mendapat kesempatan untuk mengikuti fellow program bernama Stepping Stones yang diadakan oleh Kemendikbud Belanda untuk beberapa migran yang bekerja di bidang heritage. Setiap peserta mendapat mentor dari institusi heritage dan boleh bertanya apa saja. Program yang bagus tapi akan lebih bagus lagi kalau seusai program disalurkan ke berbagai lembaga yang terlibat. Mencari pekerjaan di bidang heritage untuk migran relatif sulit karena heritage berkaitan dengan konteks lokal dari segi sejarah, dan peraturannya. Mungkin ada satu atau dua kekecualian, tetapi belum pernah ada lamaran yang berhasil diterima oleh lembaga heritage di Belanda.  

Salahsatu angkatan mahasiswa yang saya ajar di Amsterdam
Di samping itu saya juga melamar sebagai dosen tamu untuk bidang heritage management di Reinwardt Academie, Amsterdam. Saya mengajar antara tahun 2007 hingga tahun 2017. Saya sangat senang belajar bersama-sama dengan para mahasiswa S2 asal berbagai negara. Mereka muda, semangat dan kreatif. 

Sumber: www.entoen.nu
Di sela-sela pekerjaan kantor dan proyek kerjasama Indonesia-Belanda, saya juga sesekali diminta menjadi penterjemah. Salahsatu dokumen penting yang saya terjemahkan adalah Kanon Sejarah Belanda. Ini adalah 50 peristiwa penting dalam perjalanan Belanda sebagai sebuah bangsa. Saya menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia karena banyak migran asal Indonesia di Belanda. Ini hasilnya : https://www.entoen.nu/id/

Pada periode 2019-2020 saya diminta menjadi anggota Dewan Kebudayaan Belanda untuk Komisi Koleksi Kolonial. Tugas komisi ini untuk merumuskan usulan kepada Menteri Dikbud Belanda tentang kebijakan Belanda mengenai koleksi museum yang berasal dari negara-negara bekas jajahan, termasuk Indonesia.

Selain itu pada tahun 2019 saya merasakan kebutuhan untuk memikirkan apa yang masih menjadi kerisauan saya dari situasi gerakan heritage di Indonesia. Jawabannya adalah nasib para aktivis heritage. Generasi muda yang idealis, semangat dan berdedikasi untuk melestarikan warisan budaya bangsa namun harus bertahan hidup dengan cara masing-masing, tanpa bisa mengandalkan penghargaan nominal sebagai pekerja heritage. Saya ingin belajar bagaimana mengatasi situasi ini. Universitas Leiden bersedia untuk mengakomodasi kegelisahan saya. Sekarang masih dalam tahap pengembangan gagasan penelitian S3. Jalan masih panjang dan saya yakin akan berliku, akan saya jalani saja semampunya.  

Dalam perjalanan 15 tahun tinggal di Belanda dan berusaha menyalurkan minat saya di bidang heritage khususnya kerjasama kedua negara antara Belanda dan Indonesia, saya fokus pada peningkatan kapasitas untuk penggiat dan peminat heritage di Indonesia. Jika kapasitas pelaku heritage di Indonesia meningkat, pengetahun maupun pengalaman, maka pengambilan keputusan juga akan membaik. Memperkenalkan ide-ide baru tidak selalu mudah karena perubahan dalam sistem heritage membutuhkan penyesuaian dari banyak pihak, dan juga membutuhkan waktu. Saya percaya setiap bibit yang baik akan tumbuh dengan baik sekalipun dalam waktu yang lama. Yang paling penting adalah memelihara niat baiknya itu.