Monday, March 29, 2010

150 TAHUN MAX HAVELAAR (2)

Universitas Amsterdam berpartisipasi dalam perayaan 150 Tahun Max Havelaar dengan menggelar pameran berjudul : "Ini Bukan Roman, Tetapi Sebuah Tuntutan!"





Kesan tentang daerah Lebak, Banten, yang disimbolkan
dengan kerbau, kostum bupati dan dapur tradisional.




Pemutaran film "Saidjah dan Adinda"
Saidjah dan Adinda merupakan jendela kisah Max Havelaar, tentang sejarah percintaan dua sejoli pribumi. Saidjah sejak masa kecilnya dihadapkan pada ketidakadilan. Ayahnya meninggal dunia dalam penjara, beliau tidak mampu membayar pajak tanah karena kerbaunya dicuri. Saidjah pergi ke Batavia untuk mencari nafkah agar kelak diizinkan untuk mempersunting Adinda, gadis di desanya. Ketika Saidjah kembali kedesanya tiga tahun kemudian, desa itu sudah diberangus oleh pihak Belanda. Saidjah menemukan jasad Adinda diantara mayat yang bergelimpangan. Kesedihan yang mendalam membuatnya tegar menghadapi sepasukan prajurit Belanda yang menghunusnya dengan bayonet.
Kisah ini menggambarkan jurang antara kaya dan miskin, penguasa dan yang dikuasai, sebuah pesan utama yang menjadi sumber gugatan Max Havelaar.


Fakta dan angka berjudul "Kolonialisme di Hindia-Belanda".
Foto-foto teks dalam blog ini tidak begitu jelas tetapi menjadi bukti kejujuran pihak penyelenggara pameran terhadap kenyataan pahit penjajahan Belanda di Indonesia.

< Hasil dari "Cultuurstelsel" atau 'batige saldi' atau tanam paksa sangat besar. Tahun 1834 hasil tanam paksa masih 6 juta gulden, tetapi pada tahun 1857 meningkat hingga 45 juta gulden. Keuntungan dari produk-produk asal Jawa pada masa itu memberi kontribusi 25% dari pemasukan negara Belanda.




Antara tahun 1850-1859 Perusahaan Dagang Belanda memperoleh 85% keuntungannya dari kopi. Bukannya tanpa alasan mengapa Multatuli menulis sub-judul dalam Max Havelaar, 'pelelangan kopi Perusahaan Dagang Belanda'.


Bebas dari Pajak
Keuntungan yang didapat dari Hindia-Belanda digunakan untuk modernisasi di Belanda. Maka dibangunlah jalur kereta api, berbagai jembatan dan kanal-kanal. Bukan hanya itu, berkat Indonesia pula, warga Belanda saat itu dibebaskan dari membayar pajak.




Keuntungan.
Pada tahun 1860 Perusahaan Dagang Belanda mengirim 162 juta kilo komoditi dari Jawa ke Belanda. Dari jumlah itu 90% diantaranya dijualbelikan di Belanda.



Usaha Utama Belanda.
Tanam paksa berjalan hingga sekitar tahun 1870. Untuk komoditi yang menguntungkan seperti kopi, tanam paksa bertahan lebih lama lagi. Itulah satu-satunya cara yang membuat Jawa menjadi alasan bagi Belanda untuk bertahan, menurut Menteri Koloni, J.C. Baud



Eksploitasi
Tanam paksa disalahgunakan secara besar-besaran. Para petani dipaksa untuk memanfaatkan lebih dari 20% lahan suburnya untuk kepentingan Belanda.


Para petani yang tidak memiliki lahan subur dipaksa bekerja untuk Pemerintah 66 hari per tahun. Pada tahun 1858 diperkerjakan secara paksa 860 ribu petani di lahan kopi, gula dan indigo. Populasi saat itu 12,5 juta. Tanam paksa ini pada kenyataannya sama dengan perbudakan.




Sistem Pemerintahan Dualisme.
Belanda memperluas sistem feodal yang sudah ada di Hindia-Belanda dengan sistem pemerintahan dualisme. Jawa dipecah belah menjadi residensi dan setiap residensi dipimpin oleh seorang Belanda sebagai kepala pemerintah kolonial dan seorang Jawa sebagai kepala pemerintah pribumi.

Residen, Bupati, Asisten Residen.
Di tingkat tertinggi pemerintahan daerah terdapat seorang Residen Belanda diibaratkan "seorang kakak laki-laki." Kemudian ada seorang Jawa yang menjabat sebagai Bupati yang diibaratkan"adik lelaki" dan seorang Belanda yang menjabat sebagai asisten residen.

VOC
Sejak akhir Abad ke-16 orang-orang Belanda datang ke Hindia-Belanda. VOC menguasai berbagai wilayah di Jawa dan tempat lainnya. Hindia-Belanda membuat Belanda ...(teks tidak terbaca dalam foto ini. Akan dicek lagi)

Buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa.




Max Havelaar sekarang menjadi merk dagang untuk
produk-produk perdagangan yang dilakukan secara adil (fairtrade).



Pemerintahan Lebak yang sekarang ikut dipamerkan.

Berbagai peran dalam Max Havelaar sebagian bersifat fiktif. Sebagian peran menggunakan nama aslinya, seperti Tine dan sebagian lagi menggunakan nama roman seperti Brest van Kempen dan Douwes Dekker.
Nama-nama figur fiktif menggambarkan karakter orangnya seperti Drogstoppel dan Wawelaar. Figur-figur tersebut mewakili orang Belanda anonim yang mendapat keuntungan dari kesalah-kaprahan di Hindia-Belanda, tanpa merasa bersalah atau bahkan tidak tahu-menahu sama sekali. Max Havelaar ditulis khususnya untuk orang-orang yang masuk dalam kelompok ini.




Kostum-kostum yang menggambarkan berbagai figur dalam Max Havelaar.

150 TAHUN MAX HAVELAAR

Sekitar 150 tahun yang lalu buku Max Havelaar terbit (tahun 1859). Buku yang menurut Pramoedya Ananta Toer berperan mengakhiri kolonialisme Belanda di Indonesia. Tahun ini Belanda seperti mengalami "demam Max Havelaar" : sejak awal tahun hingga akhir tahun berbagai acara diselenggarakan seputar Max Havelaar dan penulisnya Eduard Dowes Dekker alias Multatuli. Cukup mengesankan melihat daftar acara itu, ibaratnya jika mau setiap hari mencari acara yang berkaitan dengan Max Havelaar, pasti ditemukan.




Multatuli lahir di Korsjespoortsteeg 20, Amsterdam



Pada usia 18 tahun, Multatuli menuju Hindia-Belanda menggunakan
kapal laut yang sama seperti dalam lukisan ini.



Meja kerja Multatuli

Sebagian kecil koleksi buku Multatuli


Sofa ketika Multatuli menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Tempat penyimpanan abu jasad Multatuli. Beliau adalah salah seorang Belanda pertama yang dikremasi ketika wafat tahun 1887.

Friday, March 12, 2010

WAKE UP MUSEUMS IN INDONESIA!


I do hope that museums in Indonesia will actively participate in International Museum Day, 18 May 2010. Especially because the theme this year inspired by the Eastern cultures : social harmony. The ICOM, organizer, put it beautifully about the social harmony, "to agree but to stand out, to look for common ground but to keep the difference."


This is the link to the International Museum Day. It contains worth reading articles.


I think we have to stop to make museums as holy places. Quiet, serious, heavy. Why not make museums as lively, jolly and cozy places? Places where people look forward to go to. Places where come first to people's mind when they need a place to meet their friends. Places to spend Friday evening. This idea only works when museum are complemented with activities and facilities besides collections.


A museum in Amsterdam, Hermitage, closer to my thought about lively museum. It has a representative restaurant and nice coffee shop to relax. The museum opens every Wednesday until 8pm but the cafe and restaurant open until 1 am six days a week.

This museum is in an old building, too, like Museum Fatahillah in Jakarta. The difference is -on my observation- the atmosphere. Both are almost exactly in the same situation. Close to canal, but canal in Amsterdam is relatively free of waste and in Jakarta Kota is black. Both are in the city centres, but around Hermitage is less car and Jakarta Kota has acute traffic and noise. Building of Hermitage was re-design in a fresh contemporer interior and Fatahillah keeps its dark and gloomy impressions. All what I want to say is : we can have two same things but the results are different.


(Poster : ICOM)