Thursday, July 01, 2010

PERSIAN CATS

I visited Iran as a tourist about 15 years ago, mainly interested in seeing with my own eyes the result of Islamic Revolution after ten years declared. One scene I saw in Teheran then, was a small boy who was crying of happiness when he got a cassette of Michael Jackson. I thought, what was the big deal with a cassette of Michael Jackson?

After I wachted a film during the Iran Film Festival in Zaandam, the Netherlands, last week, I confirmed what I have thought before. That film was 'No One Know about Persian Cats'.


To quote Wikipedia,

"the film follows two young musicians (Ashkan and Negar) as they struggle to form a band and leave Iran shortly after being released from prison. The pair befriends a man named Nader, an underground music enthusiast and producer who helps them travel around Tehran and its surrounding areas in order to meet other underground musicians possibly interested in forming a band and later leaving the country. The film highlights many of the legal and cultural challenges independent musicians face in Iran".

This film was taken secretly in Iran and is banned in that country. The director allows public to download the film through internet, though.

I was thankful to this film to remind me that nothing should be taken for granted. Not even freedom to actualize yourself, whatever you are. The rest you may see yourself through this film.


Monday, June 07, 2010

HALLO BANDOENG....

Sabtu, 5 Juni lalu, saya ikut jalan-jalan ke Apeldoorn dan sekitarnya bersama organisasi pecinta pusaka di Belanda bernama Heemschut. Naik bus antik peninggalan Perang Dunia Kedua. Salahsatu obyek kunjungan adalah Radio Kootwijk, stasiun pemancar yang untuk pertamakalinya menghubungkan Belanda (Kootwijk) dan Hindia-Belanda (Bandung).



Sapaan "Hallo Bandoeng..." sangat terkenal di Belanda sampai sekarang. Sapaan itulah yang dikatakan oleh Ibunda-Ratu Emma ketika meresmikan kontak radio pertama dengan Hindia-Belanda pada tangal 7 Januari 1929. Stasiun pemancar di Bandung sudah dibangun sejak 1917 di Malabar, dekat Bandung. Sementara di Belanda stasiun pemancar dibangun di desa Kootwijk di Veluwe yang hingga tahun 1928 menggunakan siaran gelombang panjang.



Layanan Telepon : Bicara dengan Jawa. Tarif untuk 3 menit : 33 gulden. Keterangan lebih lanjut di semua kantor telepon milik negara.

Hubungan telepon dengan Hindia-Belanda pada setiap hari kerja yang untuk sementara ini dari Amsterdam, Den Haag, Rotterdam dan Utrecht dengan Bandung, Semarang, Surabaya dan Weltevreden (Jakarta). Biaya percakapan telepon biasa : 3 menit pertama dengan Weltevreden dan Bandung 30 gulden, Semarang 33 gulden dan Surabaya 34,50 gulden. Lebih dari 3 menit di hitung per menit. Untuk percakapan penting dan darurat dapat menghubungi semua kantor telepon.

Logo PTT (Kantor Telepon dan Telegraf)


Stasiun pemancar di Kootwijk, Belanda, yang masih utuh sampai sekarang.
Arsiteknya Julius Luthmann.


Stasiun pemancar di Malabar, dekat Bandung, yang sekarang tinggal sisa kolamnya saja. Ada yang tahu tahun berapa gedung indah ini dihancurkan? Penggagas hubungan jarak jauh antara Belanda dan Hindia-Belanda yang merangkap pendesain stasiun pemancar di Malabar adalah Cornelius de Groot.

Wednesday, May 26, 2010

Thursday, April 15, 2010

BELANDA YANG GILA SEPEDA

Kita bisa berkomentar bahwa kontur tanah di Belanda memang datar jadi enak bersepeda, tetapi angin dan cuaca yang tidak menentu juga tidak menyiutkan nyali orang Belanda untuk bersepeda. Hujan, salju dan badai terus saja mengayuh sepeda. Ke kantor, ke pasar, sendirian atau membawa anak-anak pun dilakukan dengan bersepeda. Strata sosial dan ekonomi tidak signifikan lagi kalau soal bersepeda. Menteri pun bersepeda. Fasilitas jalur sepeda sudah dimulai disediakan 125 tahun yang lalu, menunjukkan niat yang sungguh-sungguh untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi di negeri ini.

Kalau soal sepeda, mari kita belajar dari Belanda, negara yang besarnya kira-kira hanya seluas Jawa Barat dan populasinya hanya 16 juta orang ini.

13,5 juta orang Belanda di atas usia 4 tahun (84% dari seluruh populasi) jika digabungkan seluruhnya memiliki 18 juta sepeda.

14,1 milyar kilometer adalah jarak yang ditempuh oleh seluruh orang Belanda yang bersepeda setiap tahunnya.

1,75 juta sepeda yang lalu lalang pada hari kerja antara jam 8 dan 9 pagi; lebih banyak dari jumlah mobil.

14 juta adalah jumlah perjalanan bolak-balik sepeda pada hari kerja.

50% (kira-kira) dari seluruh mobilitas di dalam kota Groningen dilakukan dengan bersepeda : rekor dunia.

26% dari seluruh mobilitas di Belanda dilakukan dengan bersepeda : 4,5 milyar per tahun.

3500 rute sepeda di Belanda yang seluruhnya mencakup seratus ribu kilometer.

1885 : jalur sepeda yang pertama, yaitu Maliebaan di Utrecht.

2,4 juta ton : jumlah CO2 yang dikurangi jika seluruh pergerakan mobil diganti oleh 7,5 km bersepeda.

(Sumber : de Volkskrant 10 April 2010)

Thursday, April 01, 2010

HOTEL MODERN DI GEDUNG BERSEJARAH

Begitu dong, kalau mau membangun hotel modern tidak usah selalu menghancurkan bangunan bersejarah. Ini contoh bagus di Amsterdam, bekas rumah sakit yang dibangun tahun 1891 sekarang direnovasi untuk menjadi hotel bebrintang empat dengan 120 kamar, restoran dan kafe. Fungsi bangunan ini sudah berubah beberapa kali dan terakhir kali menjadi kantor Pemerintah Kota Amsterdam Wilayah Timur.








CUTE LITTLE THING

When I visited the Allard Pierson Museum in Amsterdam, I needed to wash my hand and I found this cute ceramic on the toilet. Just one ceramic next to the door. The text means "A Nice museum." What a touch.


Monday, March 29, 2010

150 TAHUN MAX HAVELAAR (2)

Universitas Amsterdam berpartisipasi dalam perayaan 150 Tahun Max Havelaar dengan menggelar pameran berjudul : "Ini Bukan Roman, Tetapi Sebuah Tuntutan!"





Kesan tentang daerah Lebak, Banten, yang disimbolkan
dengan kerbau, kostum bupati dan dapur tradisional.




Pemutaran film "Saidjah dan Adinda"
Saidjah dan Adinda merupakan jendela kisah Max Havelaar, tentang sejarah percintaan dua sejoli pribumi. Saidjah sejak masa kecilnya dihadapkan pada ketidakadilan. Ayahnya meninggal dunia dalam penjara, beliau tidak mampu membayar pajak tanah karena kerbaunya dicuri. Saidjah pergi ke Batavia untuk mencari nafkah agar kelak diizinkan untuk mempersunting Adinda, gadis di desanya. Ketika Saidjah kembali kedesanya tiga tahun kemudian, desa itu sudah diberangus oleh pihak Belanda. Saidjah menemukan jasad Adinda diantara mayat yang bergelimpangan. Kesedihan yang mendalam membuatnya tegar menghadapi sepasukan prajurit Belanda yang menghunusnya dengan bayonet.
Kisah ini menggambarkan jurang antara kaya dan miskin, penguasa dan yang dikuasai, sebuah pesan utama yang menjadi sumber gugatan Max Havelaar.


Fakta dan angka berjudul "Kolonialisme di Hindia-Belanda".
Foto-foto teks dalam blog ini tidak begitu jelas tetapi menjadi bukti kejujuran pihak penyelenggara pameran terhadap kenyataan pahit penjajahan Belanda di Indonesia.

< Hasil dari "Cultuurstelsel" atau 'batige saldi' atau tanam paksa sangat besar. Tahun 1834 hasil tanam paksa masih 6 juta gulden, tetapi pada tahun 1857 meningkat hingga 45 juta gulden. Keuntungan dari produk-produk asal Jawa pada masa itu memberi kontribusi 25% dari pemasukan negara Belanda.




Antara tahun 1850-1859 Perusahaan Dagang Belanda memperoleh 85% keuntungannya dari kopi. Bukannya tanpa alasan mengapa Multatuli menulis sub-judul dalam Max Havelaar, 'pelelangan kopi Perusahaan Dagang Belanda'.


Bebas dari Pajak
Keuntungan yang didapat dari Hindia-Belanda digunakan untuk modernisasi di Belanda. Maka dibangunlah jalur kereta api, berbagai jembatan dan kanal-kanal. Bukan hanya itu, berkat Indonesia pula, warga Belanda saat itu dibebaskan dari membayar pajak.




Keuntungan.
Pada tahun 1860 Perusahaan Dagang Belanda mengirim 162 juta kilo komoditi dari Jawa ke Belanda. Dari jumlah itu 90% diantaranya dijualbelikan di Belanda.



Usaha Utama Belanda.
Tanam paksa berjalan hingga sekitar tahun 1870. Untuk komoditi yang menguntungkan seperti kopi, tanam paksa bertahan lebih lama lagi. Itulah satu-satunya cara yang membuat Jawa menjadi alasan bagi Belanda untuk bertahan, menurut Menteri Koloni, J.C. Baud



Eksploitasi
Tanam paksa disalahgunakan secara besar-besaran. Para petani dipaksa untuk memanfaatkan lebih dari 20% lahan suburnya untuk kepentingan Belanda.


Para petani yang tidak memiliki lahan subur dipaksa bekerja untuk Pemerintah 66 hari per tahun. Pada tahun 1858 diperkerjakan secara paksa 860 ribu petani di lahan kopi, gula dan indigo. Populasi saat itu 12,5 juta. Tanam paksa ini pada kenyataannya sama dengan perbudakan.




Sistem Pemerintahan Dualisme.
Belanda memperluas sistem feodal yang sudah ada di Hindia-Belanda dengan sistem pemerintahan dualisme. Jawa dipecah belah menjadi residensi dan setiap residensi dipimpin oleh seorang Belanda sebagai kepala pemerintah kolonial dan seorang Jawa sebagai kepala pemerintah pribumi.

Residen, Bupati, Asisten Residen.
Di tingkat tertinggi pemerintahan daerah terdapat seorang Residen Belanda diibaratkan "seorang kakak laki-laki." Kemudian ada seorang Jawa yang menjabat sebagai Bupati yang diibaratkan"adik lelaki" dan seorang Belanda yang menjabat sebagai asisten residen.

VOC
Sejak akhir Abad ke-16 orang-orang Belanda datang ke Hindia-Belanda. VOC menguasai berbagai wilayah di Jawa dan tempat lainnya. Hindia-Belanda membuat Belanda ...(teks tidak terbaca dalam foto ini. Akan dicek lagi)

Buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa.




Max Havelaar sekarang menjadi merk dagang untuk
produk-produk perdagangan yang dilakukan secara adil (fairtrade).



Pemerintahan Lebak yang sekarang ikut dipamerkan.

Berbagai peran dalam Max Havelaar sebagian bersifat fiktif. Sebagian peran menggunakan nama aslinya, seperti Tine dan sebagian lagi menggunakan nama roman seperti Brest van Kempen dan Douwes Dekker.
Nama-nama figur fiktif menggambarkan karakter orangnya seperti Drogstoppel dan Wawelaar. Figur-figur tersebut mewakili orang Belanda anonim yang mendapat keuntungan dari kesalah-kaprahan di Hindia-Belanda, tanpa merasa bersalah atau bahkan tidak tahu-menahu sama sekali. Max Havelaar ditulis khususnya untuk orang-orang yang masuk dalam kelompok ini.




Kostum-kostum yang menggambarkan berbagai figur dalam Max Havelaar.