Posts

Showing posts from 2010

PERSIAN CATS

Image
I visited Iran as a tourist about 15 years ago, mainly interested in seeing with my own eyes the result of Islamic Revolution after ten years declared. One scene I saw in Teheran then, was a small boy who was crying of happiness when he got a cassette of Michael Jackson. I thought, what was the big deal with a cassette of Michael Jackson? After I wachted a film during the Iran Film Festival in Zaandam, the Netherlands, last week, I confirmed what I have thought before. That film was 'No One Know about Persian Cats'. To quote Wikipedia, "the film follows two young musicians (Ashkan and Negar) as they struggle to form a band and leave Iran shortly after being released from prison. The pair befriends a man named Nader, an underground music enthusiast and producer who helps them travel around Tehran and its surrounding areas in order to meet other underground musicians possibly interested in forming a band and later leaving the country. The film highlights many of th

HALLO BANDOENG....

Image
Sabtu, 5 Juni lalu, saya ikut jalan-jalan ke Apeldoorn dan sekitarnya bersama organisasi pecinta pusaka di Belanda bernama Heemschut. Naik bus antik peninggalan Perang Dunia Kedua. Salahsatu obyek kunjungan adalah Radio Kootwijk, stasiun pemancar yang untuk pertamakalinya menghubungkan Belanda (Kootwijk) dan Hindia-Belanda (Bandung). Sapaan "Hallo Bandoeng..." sangat terkenal di Belanda sampai sekarang. Sapaan itulah yang dikatakan oleh Ibunda-Ratu Emma ketika meresmikan kontak radio pertama dengan Hindia-Belanda pada tangal 7 Januari 1929. Stasiun pemancar di Bandung sudah dibangun sejak 1917 di Malabar, dekat Bandung. Sementara di Belanda stasiun pemancar dibangun di desa Kootwijk di Veluwe yang hingga tahun 1928 menggunakan siaran gelombang panjang. Layanan Telepon : Bicara dengan Jawa. Tarif untuk 3 menit : 33 gulden. Keterangan lebih lanjut di semua kantor telepon milik negara. Hubungan telepon dengan Hindia-Belanda pada setiap hari kerja yang untuk sementara ini

RANDOM BEAUTY IN BARCELONA

Image

BELANDA YANG GILA SEPEDA

Kita bisa berkomentar bahwa kontur tanah di Belanda memang datar jadi enak bersepeda, tetapi angin dan cuaca yang tidak menentu juga tidak menyiutkan nyali orang Belanda untuk bersepeda. Hujan, salju dan badai terus saja mengayuh sepeda. Ke kantor, ke pasar, sendirian atau membawa anak-anak pun dilakukan dengan bersepeda. Strata sosial dan ekonomi tidak signifikan lagi kalau soal bersepeda. Menteri pun bersepeda. Fasilitas jalur sepeda sudah dimulai disediakan 125 tahun yang lalu, menunjukkan niat yang sungguh-sungguh untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi di negeri ini. Kalau soal sepeda, mari kita belajar dari Belanda, negara yang besarnya kira-kira hanya seluas Jawa Barat dan populasinya hanya 16 juta orang ini. 13,5 juta orang Belanda di atas usia 4 tahun (84% dari seluruh populasi) jika digabungkan seluruhnya memiliki 18 juta sepeda. 14,1 milyar kilometer adalah jarak yang ditempuh oleh seluruh orang Belanda yang bersepeda setiap tahunnya. 1,75 juta sepeda yang lalu

HOTEL MODERN DI GEDUNG BERSEJARAH

Image
Begitu dong, kalau mau membangun hotel modern tidak usah selalu menghancurkan bangunan bersejarah. Ini contoh bagus di Amsterdam, bekas rumah sakit yang dibangun tahun 1891 sekarang direnovasi untuk menjadi hotel bebrintang empat dengan 120 kamar, restoran dan kafe. Fungsi bangunan ini sudah berubah beberapa kali dan terakhir kali menjadi kantor Pemerintah Kota Amsterdam Wilayah Timur.

CUTE LITTLE THING

Image
When I visited the Allard Pierson Museum in Amsterdam, I needed to wash my hand and I found this cute ceramic on the toilet. Just one ceramic next to the door. The text means "A Nice museum." What a touch.

150 TAHUN MAX HAVELAAR (2)

Image
Universitas Amsterdam berpartisipasi dalam perayaan 150 Tahun Max Havelaar dengan menggelar pameran berjudul : "Ini Bukan Roman, Tetapi Sebuah Tuntutan!" Kesan tentang daerah Lebak, Banten, yang disimbolkan dengan kerbau, kostum bupati dan dapur tradisional. Pemutaran film "Saidjah dan Adinda" Saidjah dan Adinda merupakan jendela kisah Max Havelaar, tentang sejarah percintaan dua sejoli pribumi. Saidjah sejak masa kecilnya dihadapkan pada ketidakadilan. Ayahnya meninggal dunia dalam penjara, beliau tidak mampu membayar pajak tanah karena kerbaunya dicuri. Saidjah pergi ke Batavia untuk mencari nafkah agar kelak diizinkan untuk mempersunting Adinda, gadis di desanya. Ketika Saidjah kembali kedesanya tiga tahun kemudian, desa itu sudah diberangus oleh pihak Belanda. Saidjah menemukan jasad Adinda diantara mayat yang bergelimpangan. Kesedihan yang mendalam membuatnya tegar menghadapi sepasukan prajurit Belanda yang menghunusnya dengan bayonet. Kisah ini mengga