Monday, May 25, 2009

TOY OF THE WEEK


We went to Tong Tong Fair (Pasar Malam Besar) in the Hague last week and Harm was excited to see this traditional toy from Indonesia. He has bought it and played with it with excitement and amusement. He said it was so wonderful that the Indonesian are able to create this kind of simple technical invention as toys. It produces sounds of bombardement and the machine was generated by the fire inside. As long as the fire is on then it will moves back and forward. We thought that this sort of toy creativity is much better and challenging for boys nowadays than computer games.

BIKE TOUR

On Sunday, 24 May, I have joined a bike tour organized by the Architecture Centre of Utrecht, Aorta. This tour was supposed to introduce an urban development of an area called Leidsche Rhijn around Utrecht. This area is famous as a remain of Romans archeological site but also functioned as a satelite city of Utrecht.

The tour started at 2pm around the Utrecht Central Station led by an architect. There were 12 participants. This kind of tour requires minimum 6 participants and maximum 16 participants. So 12 was an ideal number. The guide was an architect who knew a lot of detail of every development of Utrecht and Leidsche Rhijn. That made the tour worth doing, very informative and entertaining.

I have learned that every town planning is a delicate political issue everywhere in the world. There is always tension amongst stakeholders and it is impossible to make everybody happy. Knowing this fact happened, too, in Holland, at least made at ease thinking about how complicated town planning in Indonesia. The difference is, in Holland all decisions should go through elaborate studies and discussions and all stakeholders have to agree. It is a collective effort. It might takes ages to go through the whole process but it must be done. While in Indonesia, sometimes a mayor of a city could have a say based on personal interest and the rest will follow. Correct me if I am wrong but that what I have experienced. The result could be a disaster because the town planning becomes very incidental, organic and temporary. A long term plan seems too luxury too afford because every mayor would like to prove his/her own taste. It doesn't mean masterplan doesn't exist. It doesn't mean collective discussions amongst stakeholders don't exist. They are all there. It could be very confusing and frustating to know that what you learn about procedure doesn't always apply in the reality. Two different worlds.

The guide yesterday said also some frustations and failures in creating a satellite city as they wished. More because of technical miscalculation. For example, an area in Leidsche Rhijn that should be lively but appeared to be quiet because the inhabitants prefer to go to the old city centre. How to create a lively new city centre? How to make it as a place where people loves to go, enjoy themselves with some atmosphere of joyful? It is very difficult to create. This kind of challenge that happen more in the case of Leidsche Rhijn. You can't beat the time. The city centre of Utrecht is very old while the development of Leidsche Rhijn was only started in 1997.

We visited various type of houses, community initiatives and public buildings including the Romans remnants site. Surely this was one of my favourite tour.

BELAJAR DARI PARIS

Dimuat di Warta Kota, 20 Mei 2009

Jika saya anggota DPR atau pejabat pemerintah di Indonesia, biasanya saya mendapat jatah untuk studi banding ke luar negeri. Anggaplah saya studi banding ke Paris di Prancis, maka inilah kesan-kesan yang akan saya laporkan. Siapa tahu walikota atau gubernur di tempat saya tinggal mendapatkan inspirasi. Bukan luar negeri minded lho, habis jatahnya studi banding ke Paris sih. Studi banding kan jarang-jarang di dalam negeri. Setidaknya jika saya memberi laporan tentang aspek-aspek yang positif dari Paris, apalagi bisa diterapkan di tempat saya tinggal, maka dana APBD yang dipakai untuk membiayai studi banding saya ada manfaatnya bagi semua warga.



Tempat sampah di tempat-tempat umum di Paris sangat simpel dan tentunya relatif murah untuk diproduksi secara massal. Jadi tempat sampah publik tidak usah menyita dana APBD yang besar apalagi jika pemeliharaannya juga menyita banyak tenaga dan biaya pemkot setempat. Cukup plastik seperti ini yang mudah diganti dan resiko kerusakannya juga rendah.



Di samping jalan raya untuk mobil yang hiruk pikuk, disediakan juga jalur untuk jalan kaki, sepeda dan sepatu roda. Ini merupakan komitmen pemkot terhadap lingkungan dan kota yang ramah untuk warganya. Fasilitas bebas mobil ini juga berfungsi sebagai sarana rekreasi. Jika mau dan dianggap penting, pasti bisa diusahakan membuat jalur seperti ini.



Kawasan umum yang bebas kendaraan bermotor sangat penting untuk kenyamanan warga melakukan berbagai aktivitas dan berinteraksi sosial.


Makin langka dan mahalnya lahan di kota-kota besar membuat orang kreatif. Tentunya didorong juga oleh kesadaran tentang pentingnya lingkungan hijau bagi sekitar. Jadi mengapa kita tidak mencoba meniru kebun di dinding seperti apartemen di tengah kota Paris ini? Ramah lingkungan, unik dan banyak lahan tersedia secara vertikal.


Membuat warga sadar sejarah dan identitas mengenai kotanya sendiri sebenarnya relatif mudah dan murah. Tampilkanlah sejarah dan identitas itu di jalan-jalan umum. Mungkin jika warga membaca sejarah nama jalan atau tempat tertentu, rasa memilikinya tumbuh dan ikut bertanggung jawab menjaga kotanya dengan baik.

Kanal di tengah kota yang bersih dan terpelihara menjadi oase yang sejuk, indah dan sehat bagi setiap warga kota. Jakarta mempunyai banyak kanal yang berpotensi besar menjadi sarana transportasi dan rekreasi jika saja kanal-kanal itu bersih dan terpelihara.


Seperti Jakarta, Paris juga punya banyak pengamen. Bedanya, pengamen di Paris mengamen di kawasan-kawasan bebas kendaraan jadi menarik banyak penonton dan aman. Jadi fungsinya hiburan yang murah meriah dan juga mungkin gratis bagi banyak warga.


Siapa bilang di Paris tidak ada gelandangan? Gelandangannya malah punya kasur segala. Yang ini tidak ada yang perlu ditiru. #

Monday, May 18, 2009

INFILL DEVELOPMENT

Perpaduan antara bangunan lama dan baru selalu menarik perhatian saya karena saya percaya pelestarian pusaka (heritage conservation) haruslah aktual dan menjawab kebutuhan zaman. Jadi tidak semata-mata dan sama sekali bukan untuk nostalgia. Jika memang niat ada banyak cara untuk mempertahankan bangunan lama dan mengkombinasikannya dengan bangunan baru. Dengan cara ini pelestarian pusaka dan pembangunan baru secara simultan terakomodasi.

Solusi seperti ini umumnya disebut Infill Development. Definisinya menurut BUILD, is the economic use of vacant land, or restoration or rehabilitation of existing structures or infrastructure, in already urbanized areas where water, sewer, and other public services are in place, that maintains the continuity of the original community fabric.

Solusi Infill Development juga berdasar pada semakin meningkatnya kesadaran tentang pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup. Pendekatan Infill adalah tanggapan terhadap kebijakan pemerintahan di negara-negara Amerika, Eropa Barat dan bagian dunia lainnya untuk memanfaatkan kembali lahan dan struktur yang sudah terbangun dibandingkan dengan membangun di lahan yang baru sama sekali. Hal ini setidaknya mengurangi beban lingkungan. Selain itu keluarga inti yang semakin mengecil dan semakin besarnya populasi manula meningkatkan kebutuhan akan unit rumah tunggal di tengah perkotaan.

Dalam banyak kasus, Infill Development juga berhasil menghidupkan kembali kawasan-kawasan industri di tengah kota yang nyaris mati. Dengan peremajaan fasilitas dan modernisasi bangunan d kawasan kota lama maka investor bergairah kembali membuka usaha-usaha baru. Pendekatan infill memang menantang, kompleks dan kontroversial karena berbagai tekanan antara mempertahankan karakteristik lama dan menjawab kebutuhan baru. Namun beberapa kasus Infill berhasil menjawab tantangan tersebut.

Dalam terbitan New Urban Home ada kutipan dari Le Courbusier bahwa arsitektur semata-mata tidak bisa menyelamatkan dunia, tetapi para arsitek dan perencana kota mempunyai tanggungjawab untuk memainkan peran utama dalam menciptakan dunia yang lebih baik.


JEMBATAN BERLAGE

Pada suatu pagi yang cerah minggu lalu saya bersepeda melewati Jembatan Berlage di Amsterdam. Kebetulan jembatannya sedang terbuka memberi jalan bagi kapal yang akan lewat. Mungkin kombinasi antara sinar matahari, sungai Amstel dan promenade sepanjang sungai yang bersih dan menyenangkan membuat Jembatan Berlage tampak cantik di mata saya. Walaupun usianya sudah 67 tahun (diresmikan tahun 1932) namun fungsi teknis dan estetisnya tidak berubah. Arsiteknya, H.P. Berlage pasti bangga dengan pemeliharaan yang baik ini.
Pada tahun 1945, sebuah plakat direkatkan di jembatan ini: "This plaque is presented to the City of Amsterdam by Canadian soldiers who served in the Netherlands to commemorate the liberation of the Netherlands and in acknowledgement of the gracious hospitality extended by the Dutch people to the Canadian forces 1944-45."

Jembatan dengan fungsi teknis yang sama juga ada di Jakarta Kota (Jembatan Kota Intan, 1628) dan Palembang (Jembatan Ampera, 1962). Bedanya, kedua jembatan tersebut tidak pernah diaktifkan lagi untuk lalu lintas kapal.

WORLD HERITAGE SITE : DE BEEMSTER


I tried to visit the World Heritage Sites as many as possible. But sometimes I forget to take a look the sites in my neighbourhood. I have found out that the Netherlands has seven world heritage sites, six are in the country and one is in Curacao, South America. So I decided that I will visit at least the six sites from now on.

The first site I have visited last Saturday (16 May) was de Beemster in the north of Holland. It used to be a lake called Beemster and in the early 17th century was reclamated into more than 7 thousand hectares. It was declared as a world heritage sites in 1999 as an example of man-made creative masterpiece to enable its inhabitants to live about 3,5 below the sea level. It took 43 windmills to drain the lake between 1607-1612. It was a giant's step forward in man's relationship with water. The success of reclamation of Beemster Lake has inspired many other reclamations both in Holland and abroad since that century.


The land was divided into symetrical and perfect squares. Farmhouses were built in a typical style of the area where all functional rooms were under one piramidal shaped roof. Country houses were also built with rythmically arranged facades and symmetrically laid-out gardens.



De Beemster was a mirror of the Dutch Golden Age and through ups and downs, it is relatively intact until today. The ring canal, the allotments and the townstructures of Middenbeemster and Westbeemster remain the same. The structure of perfect squares and quadrants has endured through the centuries and can be seen to this very day.

Friday, May 15, 2009

MULTICULTURAL DINNER

With over 170 different nationalities and a 45% ethnic minority, the population of Amsterdam is one of the most diverse in Europe. It is a picture also of other big cities in the Netherlands. In a more personal perspective I could give you a tiny example of a dinner I have attended on 10 May. It was a dinner in a friend's house and all attendees cooked something specific from their origin countries. We have ended up with delicacies from Indonesia, Jordania, Aljazair, Poland and Somalia. It was fun to try new tastes from various countries. But it also show that our society has a rich culture that should be a social capital instead of social threat as much discussed lately. Only when everyone is willing to integrate and simultaniously maintain their own identity. No need to confront both sides because an identity could be a blend of a lot of things and if all those things are genetic or historically attached to someone, nobody can erase them. It is healthier to admit the fact and nourish them in a more positive attitude. Enjoy the multicultural dinner then!

Monday, May 11, 2009

LONG LIVE THE WINDMILL!

Saturday and Sunday, 9-10 May 2009 were the Windmill Days in the Netherlands. I was always enthusiast about windmills. Somewhow it offers me a feeling about tratidion, history and something typical Dutch. My family and I biked to Abcoude to the first windmill but it was closed due to restoration. Then we went to Weesp and visited one of the windmill in Utrechtsestraat. The windmill is called "De Vriendschap" (The Friendship) built in 1694. It is still active with flour production using wind as the power generator. For me it was impressive to see the interior of the windmill during the flour production and to listen to stories that windmill can be used for various function that needs huge power. I think it is smart to take benefit of the wind since Holland is windy most of the time of the year.



Public, especially children and foreign tourists, visited the Friendship windmill last Saturday. It was nice to see how young generation learn about the windmill. They could eat "pannekoek" (pancake), went up to the plaza of the windmill and played around the windmill with a view of the river. Fabulous.


Other special thing was the exhibition about "Traditions of Holland" which use t-shirts as its medium. Every t-shirt shows one subject like "Monday is the washing day," "Mother Day," "Santa Claus," etc. This exhibition is related to the theme 2009 as the Year of Traditions initiated by the Netherlands Centre for Folks Culture in Utrecht. They have decided that traditions become more important in the periods of globalization and multicultural society, because they remind all of us about habits and customes that we learn from home. T-shirt materials can be borrowed by any organizations in the country. These white t-shirts are supposed to be shown as washing hanging with cloth's clips outside. This is as a metaphore of tradition : it is public, can be seen by everyone although it has something personal, intimite, just like traditions.

The benefit of exhibition with washed t-shirts is they can be hanged everywhere, inside museums, schools, libraries, but also in the middle of a market, street or garden.

Second thought of using the metaphore of washed -t-shirts is tradition is just like clothes. When it is out of fashion or too old, it dismiss from our daily life. Tradition is dynamic and change all the time. It can re-appears if it is fashionable again.

For someone who had an obligation to go to the "Inburgering cursus" (Integration course) and learned all about Dutch life in term of language and traditions, I found this kind of exhibition was very interesting, informative and creative.

Friday, May 08, 2009

FUN HISTORY

Between 19-25 April I accompanied 6 colleagues from Yogyakarta and Jakarta on their visit to the Netherlands related to the heritage education pilot project sponsored by the the Dutch Government. We visited a lot of institutions and one impressed me : ANNO.

ANNO is located in the Hague and this organization has task to promote history of Netherlands to public and education institutions. To give a quick picture : ANNO has organised an exhibition about history of beauty in shopping malls. How perception about beauty changes from time to time. This relativism of beauty is the message of the exhibition. The fact that ANNO exhibited its works in malls has intrigued me since I have tried to do the same in Medan several years ago. Many Indonesians love malls and they visit malls regularly. So in Medan we have cooperated with some malls to exhibit "Medan in the Past" showing black & white pictures from the good old days when Medan still looked clean, green and romantic. Many viewers fell in love with these pictures and they started to ask more about the past. So I learned that "malls manuvre" actually being used also to promote history in the Netherlands.


Another example. The current exhibition called "the Bunker" is about dillema in the Second World War. If you are a Dutch and has a Jewish neighbour, what should and would you do? Report the presence of your neighbour to the Germans? Or protect your neighbour? For three years until 2010 the Bunker will travel to various cities in the Netherlands and let children wandering back to the facts and history of the Second World War.



Besides exhibitions, ANNO also works with the press by publishing articles related to what actuals in the current days and their relations with history. Topics could be about education, integration, sport, health, housing, labours, etc. In this way, people are aware that current affairs are attached to history.

Looking at the materials that were produced by ANNO made me envious also. They could think as creative as they would without worrying about how to get funding to produce something because they receives subsidies from the Government.

I have never seen an organization working with history as bright and cheerful as ANNO.

(Photo courtesy : Anno)

Tuesday, May 05, 2009

SENSITIVITAS FUNGSI BARU BANGUNAN BERSEJARAH

Warta Kota, 27 Maret 2009
Bangunan berusia minimal 50 tahun yang mempunyai kekhususan dari segi arsitektural dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat layak disebut sebagai bangunan bersejarah. Indonesia mempunyai banyak sekali bangunan bersejarah yang sifatnya tradisional maupun kolonial. Untuk melestarikan bangunan bersejarah, selain peremajaan secara fisik juga perlu adanya fungsi baru.

Fungsi baru bangunan bersejarah sebaiknya memperhatikan aspek-aspek :

· Tata kota (lokasi bangunan dan lingkungan sekitar)
· Fisik bangunan (arsitektural, konstruksi, organisasi ruang, fisika bangunan)
· Ekonomi (potensi untuk memobilisasi pendapatan)
· Sosial (potensi untuk kesejahteraan dan kebanggaan masyarakat)

Pengalaman menunjukkan bahwa memutuskan fungsi baru bangunan bersejarah tidaklah sederhana karena selain harus memperhatikan nilai fisik, kita juga harus menimbang dengan cermat nilai intrinsiknya. Mungkin itu sebabnya kasus Buddha Bar di Jakarta menyeruak karena fungsi yang baru dari gedung eks-immigrasi tersebut tidak memenuhi kriteria sosial di atas. Penggunaan nama Buddha Bar dianggap tidak layak karena memiliki asosiasi dengan agama Buddha dan juga posisinya diantara agama-agama lain. Selain itu fungsi baru gedung ex-imigrasi juga dianggap elitis hanya untuk golongan atas saja.
Sensitivitas fungsi baru bangunan bersejarah terjadi dimana-mana. Kita bisa mengambil contoh dari beberapa negara. Di Belanda banyak gereja dan biara dimanfaatkan untuk fungsi yang baru sebagai cerminan proses sekularisasi. Sebagian anggota masyarakat keberatan dengan hal itu karena bagi mereka gereja dan biara adalah jiwa dari suatu tempat dan nilai relijiusnya harus dipertahankan. Ada sebagian orang yang berusaha menyesuaikan dengan tuntutan tersebut dan menjadikan bangunan bekas gereja dan biara misalnya sebagai penampungan orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Namun banyak juga yang tidak keberatan dengan fungsi sekuler dengan menyulapnya sebagai tempat pesta dan apartemen.
Perubahan fungsi bangunan yang termasuk pusaka relijius sebenarnya bukan hal yang baru dan terjadi dimana-mana. Misalnya saja gedung Hagia Sophia di Istanbul yang dibangun tahun 536 sebagai gereja terbesar di dunia, pada tahun 1453 berubah menjadi mesjid dan tahun 1934 berubah lagi menjadi museum. Sementara itu De Mesquita di Cordoba, Italia, kompleks bangunan yang selesai dibanguna tahun 1000 Masehi, berubah fungsinya menjadi katedral pada abad ke-16.
Walaupun demikian fakta-fakta ini tidak membuat gejolak emosi perubahan fungsi bangunan bersejarah yang termasuk pusaka relijius berhenti. Protes dan silang pendapat masih berlangsung sampai sekarang karena nilai sosial suatu bangunan bersejarah tidak bisa diberi label harga tertentu, semakin besar nilai memori kolektifnya, semakin sensitif pula penentuan fungsi barunya. Situasi ini diperumit dengan persyaratan ekonomis bahwa fungsi baru harus mampu pula mendatangkan pendapatan yang cukup untuk pemeliharaan bangunan dan tentu saja keuntungan untuk investornya. Mencari keseimbangan antara nilai sosial dan nilai ekonomis merupakan tantangan yang berat.
Salahsatu contoh pelestarian pusaka yang mendekati keseimbangan nilai sosial dan nilai ekonomis adalah Westergasfabriek di Amsterdam.

Westergasfabriek adalah pabrik batubara yang dibangun tahun 1885 dan berhenti berproduksi tahun 1967. Sejak itu kompleks bangunan seluas 14 hektar ini berfungsi sebagai garasi dan bengkel. Sebagian bangunan dihancurkan dan yang tersisa adalah 13 bangunan bergaya Neo-Renaisan yang seluruhnya berstatus bangunan bersejarah yang dilindungi.

Bagaimana menentukan fungsi baru yang sesuai untuk lahan pusaka sarat polusi dengan banyak bangunan bersejarah diatasnya? Strategi yang dipilih adalah mengkombinasikan fungsi baru yang sifatnya sementara yaitu sebagai tempat berbagai pertunjukan, dengan rencana pelestarian jangka panjang sebagai taman budaya dan sarana rekreasi & olahraga.

Lahan pusaka ini harus dibersihkan dulu, bangunan-bangunannya harus direnovasi, tim kerja harus dibentuk, dana harus dicari dan semua itu merupakan suatu proses panjang yang kompleks selama hampir 15 tahun. Motor dan inisiatornya adalah pemerintah lokal yang menunjuk seorang pejabat sebagai penanggungjawab seluruh proyek. Pimpinan proyek inilah yang mengorganisasikan kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat. Sejak tahun 2003 di kawasan ini dikembangkan berbagai fungsi baru antara lain bioskop, ruang pertemuan, sarana pertunjukan, bakeri, kafe, galeri, berbagai perusahaan, tempat penitipan balita dan museum untuk anak-anak. Selain itu fasilitas ruang terbuka dimanfaatkan sebagai sarana olahraga dan rekreasi oleh publik secara cuma-cuma. Westergasfabriek mampu menggalang dananya sendiri untuk pemeliharaan tanpa bergantung pada subsidi pemerintah dan kompleks ini menjadi kebanggaan masyarakat sekitarnya.

Dalam kasus Buddha Bar di Jakarta, masalahnya bukan hanya nilai ekonomis dan nilai sosial namun juga berunsur permainan politis melalui kepemilikan berbau nepotisme. Jika masalahnya diurai satu demi satu dan dipisah-pisahkan, terlepas dari komplikasi nepotisme, mungkin harus dievaluasi kembali kemungkinan terbaik fungsi baru gedung ini bagi Jakarta. Suatu fungsi baru yang mengembalikan investasi dan memberi keuntungan ekonomis, menumbuhkan kebanggaan warga Jakarta dan memberi manfaat bagi khalayak seluas-luasnya. Mungkin kombinasi berbagai fungsi baru seperti Westergasfabriek namun dalam skala lebih kecil merupakan suatu alternatif. #

KAWASAN BERSEJARAH BEBAS KENDARAAN

Warta Kota, 30 April 2009
Salahsatu aspek penting dalam pelestarian pusaka adalah pengelolaan lalulintas khususnya di kawasan bersejarah di pusat kota. Lalu lintas harus dibatasi seminimal mungkin untuk mengurangi dampaknya terhadap bangunan bersejarah sekaligus menciptakan kenyamanan bagi para pengunjung. Lalu lintas menciptakan polusi suara dan polusi udara; serta merusak fungsi sosial dan rekreasi yang ditawarkan oleh jalan, gang dan trotoar. Bagi kawasan bersejarah seperti Jakarta Kota, Braga di Bandung, Malioboro di Yogyakarta atau Kesawan di Medan dampak polusi udara lalu lintas jelas terlihat dari penampilan fasade bangunan yang kusam, berdebu dan kotor. Polusi udara, beban dan getaran dari lalu lalang kendaraan merupakan ancaman bagi bangunan bersejarah dan lingkungan sekitarnya.

Usaha untuk meredam lalu lintas di kawasan bersejarah sudah pernah ada. Ambil contoh di Jakarta pada pertengahan April lalu dengan gagasan bebas mobil walaupun hanya satu hari. Di Medan, usaha menciptakan Kesawan bebas kendaraan dimulai sejak tahun 2002 dengan dilarangnya kendaraan bermotor melintasi jalan Kesawan antara jam 6 sore hingga jam 6 pagi setiap harinya. Kesawan di malam hari berubah menjadi tempat rekreasi dengan berbagai lampu penghias jalan, aneka makanan tradisional dan pertunjukan. Kawasan bersejarah ini menjadi hidup kembali. Usaha serupa diikuti oleh Semarang dengan kawasan bersejarah Tionghoa-nya yang diubah menjadi ”Kya-kya” (food court) di malam hari. Sementara di Jakarta agaknya diperlukan komitmen dan keberanian yang lebih besar lagi daripada sekedar memberlakukan hari bebas mobil untuk satu hari.

Kawasan bersejarah Jakarta Kota terlalu berharga untuk diterlantarkan. Pada abad ke-16 kawasan ini disebut ”Permata Asia” dan ”Ratu dari Timur” oleh para pelayar dari Eropa sebagai pusat perdagangan paling ramai di seluruh benua Asia karena lokasinya yang strategis dan tanahnya yang subur. Sejak Gubernur Ali Sadikin menetapkan Jakarta Kota sebagai kawasan bersejarah yang dilindungi pada tahun 1972, kita belum menikmati hasilnya yang maksimal hingga kini. Mungkin karena usaha pelestariannya dilakukan serba setengah-setengah, tidak menyeluruh, tidak ”sekalian,” tidak ”berani mati” dan tidak tulus. Jadinya berbagai inisiatif insidental di sana-sini selama puluhan tahun rusak kembali dan terlindas oleh waktu, saling tumpang tindih dan tambal sulam terus.

Salahsatu kebijakan ”berani mati” yang bisa diambil misalnya memberlakukan Jakarta Kota sebagai kawasan pejalan kaki secara permanen. Namun ketika usul ini dilontarkan, banyak pihak sangat pesimis. Kenapa pesimis? Karena orang Jakarta tidak biasa berjalan kaki. Mobil harus berhenti persis di depan pintu. Takut panas matahari. Banyak polusi debu. Perlu keberanian besar untuk mengubah cara berpikir masyarakat, memperkenalkan budaya jalan kaki, menikmati gaya hidup tanpa mobil untuk sejenak, dan kita semua akan terpana kelak mendapati bahwa ternyata kawasan Jakarta Kota (dan pusat-pusat kota bersejarah lainnya di Indonesia) sangat nyaman untuk dinikmati tanpa kendaraan. Namun perlu keberanian besar dan komitmen yang tidak setengah hati untuk mewujudkannya. Kepura-puraan mencintai sejarah dan pusaka (heritage) tidak cukup untuk mengubah Jakarta Kota menjadi kawasan yang mendatangkan keuntungan secara sosial dan ekonomi.

Menjadikan kawasan bersejarah sebagai kawasan pejalan kaki secara permanen bukan hal mudah, namun bukannya tidak mungkin. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkannya :

Mengatur akses sifatnya sangat fundamental dalam manajemen kawasan bersejarah secara komprehensif. Aksesibilitas dengan berbagai mode transportasi sampai jarak tertentu harus diatur dengan fasilitas parkir, akses untuk pengiriman barang dan infrastruktur pengarahan lalulintas. Semuanya harus diintegrasikan ke dalam kota tanpa mengorbankan kawasan bersejarah;
Peningkatan kualitas jasa angkutan umum dapat membantu mengatasi kemacetan dan mendorong masyarakat untuk mengubah mode transportasi dari privat ke publik.
Keinginan untuk menyediakan fasilitas yang memadai dapat berbenturan dengan kebutuhan untuk melindungi penampilan bangunan bersejarah dan pemandangan jalan-jalan disekitarnya yang cukup sensitif. Perlu dipikirkan keseimbangan untuk memastikan bahwa nilai kawasan bersejarah terjaga sekaligus kebutuhan terhadap akses terpenuhi;
Kawasan bersejarah menjadi tujuan menarik bagi bus-bus pariwisata dan ketika masa liburan bisa memberi dampak serius bagi sistem transportasi dalam kota, kualitas hidup warga di kawasan bersejarah, kualitas udara dan menjadi beban ekstra bagi kapasitas jalan.
Sistem transportasi yang terintegrasi sangat vital bagi kesuksesan manajemen akses ke kawasan bersejarah.
Pejalan kaki dapat dengan mudah, aman dan menyenangkan mengeksplorasi kawasan bersejarah. Kenyamanan berjalan kaki dapat saja terganggu dengan adanya lalu lintas, pemeliharaan jalan dan trotoar, rambu-rambu, perabot jalan dan kualitas udara.
Pengurangan kemacetan lalu lintas di kawasan bersejarah tidak akan tercapai tanpa penyediaan alternatif mode transportasi yang jelas dan efisien.
Sebagian pengusaha yakin bahwa menjadikan kawasan bersejarah sebagai kawasan pejalan kaki akan mematikan usaha mereka. Faktanya adalah toko-toko mendapatkan untung lebih besar dengan adanya pedestrianisasi. Mungkin toko perabot akan pindah, namun akan datang toko-toko baru dengan keuntungan lebih tinggi. Tidak ada kasus suatu kawasan pejalan kaki harus dibuka kembali aksesnya untuk kendaraan karena usaha di kawasan tersebut merugi. Para perencana kota saat ini sadar bahwa kawasan pejalan kaki merupakan kawasan usaha yang lebih menguntungkan; alasannya sederhana saja yaitu jalan kaki adalah mode transportasi yang memungkinkan tingkat kepadatan dompet tertinggi di sepanjang etalase toko-toko.

Berita baiknya adalah berbagai kawasan bersejarah di Indonesia termasuk Jakarta bukan satu-satunya yang mengalami masalah keriuhan dan kemacetan lalu lintas. London juga mengalami hal yang sama di sekitar kawasan Menara London dan Istana Westminster. Lalu lintas membuat kawasan tersebut menjadi bau, ribut dan susah dicapai oleh para pejalan kaki. Pemerintah setempat mulai memikirkan program traffic calming sebagai solusinya.

Malaka di Malaysia sudah mengambil langkah berani dengan mejadikan kawasan bersejarahnya sebagai kawasan pejalan kaki. Begitu juga dengan kota Fazilka di India yang membuktikan melalui survei bahwa lebih dari 90% penduduknya mendukung usaha menjadikannya sebagai kawasan pejalan kaki. Mungkin langkah ini akan diikuti Jakarta, Bandung, Yogya dan Medan. Selamat berjalan kaki. #