Wednesday, May 09, 2018

CARTAGENA, COLOMBIA

I visit Cartagena, Colombia, between 6-9 May 2018 to learn about this World Heritage City since 1984. The old city is surrounded by 13 km of fortress that in the past functioned as the largest slavery trading post in the South of America. No wonder that Cartagena breaths slavery history in its daily life even in 2018. Actually this year Cartagena celebrates influence of African legacy by creating various programs and developing African heritage trails. 


I met Alfonso Cabrera, the Head of Heritage Division in IPCC (Instituto de Patrimoni Y Cultura de Cartagena), a body that responsible for cultural heritage in Cartagena. He is a restoration architect specialised in fortification. His enthusiasm was very obvious about sharing and cooperation with other countries even as far as Indonesia with 450 fortresses. 

If you are interested in checking his doctoral research (he did in Spain), this is the link. 


Alfonso Cabrera, the Head of Heritage Division of IPCC

The evaluation and action plan of Cartagena de Indias World Heritage City 2018-2033

The office of IPPC


In his division, he is the only one who has a permanent position assisted by 25 staff with temporary contracts. Heritage is a tough business indeed. They in charge for 125 fortresses in Cartagena including monastery that used to be transformed into jails. In the old city, they in charge to control and to assist 1700 historical built heritage which are only 20 of them belong to government and the rest are owned by private sector and church institutions. 

Although Cartagena has received a World Heritage Status in 1984 but they have to be alert continously since new development never stops. This year they have organized a conference to evaluate their ups and downs with policies and practices. The result is a new breath of action plan and policy until 2033. 

I think Cartagena can be an interesting comparison for other fortressed cities in the world.  


KOTA PUSAKA DUNIA

Saya ingin membagi pengalaman saya dengan kota-kota dan kabupaten-kabupaten di Indonesia yang saya kira semua bermimpi suatu hari bisa mengajukan nominasi sebagai Kota Pusaka Dunia. Indonesia belum mempunyai kota pusaka dunia sampai saat ini tetapi Jakarta dan Sawahlunto sudah mengajukan nominasi. Mempersiapkan nominasi itu rumit dan perlu nafas panjang tetapi memikirkan rencana manajemen kota pusaka jangka panjang dan menerapkannya jauh lebih rumit dan menuntut komitmen tinggi.

Pertama kali saya mengikuti diskusi tentang dinamika pengelolaan kota pusaka dunia yaitu di awal tahun 1990-an di Kota Pusaka Li Jiang di Cina. Li Jiang menjadi living museum, ditinggalkan penduduk lokalnya kecuali orang-orang yang sudah sangat tua yang harus terus bekerja di sektor pariwisata melayani arus deras turis dari seluruh dunia.

Setelah itu saya mengunjungi banyak kota pusaka dunia lain dan melihat berbagai dinamika dan tantangan pengelolaan tempat-tempat yang mendapat status pusaka dunia. Tahun 2018 saya mulai dengan mengunjungi Galle Fort di Sri Lanka pada bulan Maret dan sekarang saya sedang berada di Cartegena di Kolombia.

Selain itu saya tinggal di Amsterdam yang mendapat status sebagai kota pusaka dunia sejak tahun 2010 sehingga saya bisa melakukan pengamatan sehari-hari tentang dinamika sebuah kota pusaka dunia. Banyak pelajaran yang bisa diambil dan kasusnya berbeda-beda. Amsterdam adalah salah satu contoh yang relatif baik karena statusnya masih baru dan berkesempatan mengambil hikmah dari kota-kota pusaka dunia lain yang sudah jauh lebih lama bergulat dengan manajemen penyeimbangan antara kepentingan lokal dan serbuan wisatawan asing. Namun tempat-tempat yang lain saya melihat masih sering terjebak pada pola manajemen yang sama yaitu mendahulukan wisatawan dan menomorduakan kepentingan penduduk lokal.

Fenomena umum yang terjadi adalah pengambilalihan ruang dan prioritas dari penduduk lokal oleh wisatawan baik asing maupun domestik. Properti dan lahan dipindahtangankan, kegiatan ekonomi difokuskan pada pariwisata, lambat laun terjadi pergantian posisi antara pendatang dan penduduk lokal.

Transisi pergantian peran tersebut tanpa disadari mengikis sense of place . Tanpa dinamika kehidupan penduduk lokal, hilang juga semangat, ruh dan jiwa suatu tempat. Padahal sense of place itu yang menjadi nilai intrinsik yang membuat suatu tempat unik dan mendapat status sebagai pusaka dunia. Pusaka teraga seperti bangunan dan infrastruktur mungkin ada dan sudah dilestarikan tetapi tanpa jiwa, tanpa gairah, tanpa kehidupan lokal. Kosong. Sepi. Hilang.

Saya banyak merenung dan memikirkan fenomena ini. Perlahan-lahan saya mulai melihat akar masalahnya. Tentu saja banyak sudah referensi yang membahas mengenai dinamika manajemen kota pusaka dunia tetapi ini adalah pendapat saya pribadi dengan segala kerendahhatian dan orientasi kepada hal yang praktis. 

Menurut saya jika suatu tempat mendapat status sebagai pusaka dunia maka kebijakan yang sebaiknya diadopsi adalah penguatan dan pemberdayaan penduduk lokal karena itulah modal dasar status pusaka dunia.

Seorang kepala daerah bisa membentuk dua macam lembaga sumber pendanaan dan kebijakan yaitu:

1. Kebijakan dan Dana Abadi (revolving fund) untuk pemeliharaan pusaka fisik;
2. Kebijakan dan Dana Abadi untuk pemberdayaan pusaka non-fisik (pusaka tak teraga seperti tradisi, produksi kebudayaan dan sumberdaya manusia).

Penduduk lokal adalah "raja" di rumah mereka sendiri dan mendapat prioritas dalam pemeliharaan status pusaka dunia. Dengan adanya skema dana abadi para pemilik bangunan tidak perlu tergiur menjual properti mereka kepada investor dan pindah ke tempat lain. Mereka adalah penjaga gawang dan bagian penting yang harus tetap mampu melanjutkan kehidupan mereka setelah penganugerahan status pusaka dunia. Peraturan dan kebijakan pasti bisa diatur untuk pengelolaan dana abadi jika memang ada itikad untuk memprioritaskan penduduk lokal dan menganggap mereka itu bagian yang tidak terpisahkan dari status pusaka dunia. Betapa banyaknya situs dan kota pusaka dunia menjadi living museum dan kota hantu jika penduduk lokalnya pindah. 

Kedua adalah dana abadi untuk pemberdayaan pusaka non fisik. Dana ini dimaksudkan untuk mendukung usaha-usaha kewiraswastaan yang memunculkan tradisi dan identitas lokal. Bentuknya bisa dalam bentuk kuliner, kerajinan, produk kreativitas, segala bentuk karya seni, permainan tradisional, kebiasaan lokal dan banyak lagi. Dana ini juga untuk pemberdayaan sumberdaya manusia dan kelembagaan yang terlibat dalam seluruh usaha pelestarian pusaka non fisik itu. Dengan cara ini penduduk lokal adalah pemain utama di rumah mereka sendiri dan tidak terdesak serta terpinggirkan oleh investor-investor baru. 

Setelah penduduk lokal diberi prioritas maka hal lain yang mendesak untuk dikelola adalah arus wisatawan. Tentu saja menggiurkan untuk mengundang wisatawan sebanyak-banyaknya demi keuntungan ekonomi namun perlu diingat bahwa setiap tujuan wisata mempunyai carrying capacity (daya tampung) yang terbatas. Oleh sebab itu arus wisatawan perlu diatur sesuai dengan daya tampung yang wajar. Secara jangka panjang hal ini juga akan menguntungkan dan positif bagi semua pihak. Saat ini kemajuan teknologi cukup memadai untuk mengatur semua elemen dinamika pariwisata baik di tingkat domestik maupun internasional. Jika manajemennya profesional daya tampung bisa diefektifkan untuk memberi manfaat maksimal bagi investasi lokal.

Dengan demikian hal-hal yang menjadi kunci utama adalah penduduk lokal, investasi lokal dan peningkatan kualitas kehidupan lokal. Jika ke-lokal-an diunggulkan dan diprioritaskan, dengan sendirinya wisatawan akan datang dan tidak akan ada habisnya sebagaimana yang diharapkan karena mereka menemukan apa yang mereka cari. 

Friday, May 04, 2018

KENAPA BERSEPEDA SANGAT POPULER DI BELANDA?

Belanda sangat terkenal sebagai negara sepeda. Semua ujung negara ini (memang luasnya hanya sekitar luas Jawa Barat sih) dihubungkan oleh jalur sepeda kira-kira 35 ribu kilometer. Ada organisasi yang namanya the Urban Cycling Institute katanya menerima sekitar 150 delegasi dari seluruh dunia setiap tahun yang datang ke Belanda untuk belajar bagaimana mentransformasi masyarakat cinta mobil menjadi masyarakat yang cinta sepeda. Organisasi ini tugasnya adalah "bringing knowledge on cycling from science to practice and back". Bagus ya visinya? 




Saya menghadiri pemutaran dan diskusi tentang karya mereka yang baru dirilis yaitu film dokumentasi dengan judul "Why We Cycle" hari Selasa, 2 Mei 2018. Film sepanjang satu jam ini memaparkan pengalaman pribadi para pesepeda di Belanda dan juga ulasan para ahli tentang sisi positif bersepeda. Jadinya memang film propaganda seperti disebutkan oleh seorang peserta diskusi dan diamini oleh Marco te Brömmelstroet (Associate Professor dalam Urban Planning di University of Amsterdam dan Academic Director of the Urban Cycling Institute).

Tapi lembaga ini tidak hanya membuat film propaganda, mereka banyak melakukan riset lain tentang sepeda dan budaya bersepeda. Jadi film ini memang hanya salah satu produk yang ditujukan untuk negara-negara asing yang penasaran kenapa orang-orang di Belanda senang dan rajin bersepeda. Website mereka sangat menarik untuk dibaca-baca.

KONTEMPLASI BATIN SEBUAH BANGSA (2)

Kamis, 3 Mei 2018, udara hangat dan cerah (suatu keistimewaan di Belanda) diisi dengan menghadiri diskusi tentang "The Long Decolonization of Indonesia" (Dekolonisasi yang Panjang di Indonesia). Ini adalah riset dan buku yang ditulis oleh Els Bogaerts dan Remco Raben. Tempatnya di NIAS (The Netherlands Institute for Advanced Study in the Humanities and Social Sciences), Amsterdam. 





Saya menghadiri diskusi ini dengan beberapa alasan. Pertama, Remco Raben adalah peneliti dengan spesialisasi imperialisme dan dekolonisasi yang banyak menulis tentang Indonesia. Kedua, saya merasakan kebutuhan untuk mempelajari  perspektif Belanda tentang Indonesia pasca Kemerdekaan.  Jika saya memahami perspektif Belanda maka saya akan bisa mempertajam pemikiran saya tentang perspektif Indonesia. Ketiga, karena pekerjaan saya sehari-hari adalah berkaitan dengan kerjasama antara Indonesia dan Belanda dalam kerangka pusaka bersama maka saya perlu banyak pengetahuan, pengalaman dan masukan. Banyak hal yang belum saya pahami. Suatu proses belajar yang tidak pernah selesai.

Jadilah saya duduk di Ruang Konperensi NIAS di tengah kota Amsterdam mendengarkan presentasi Remco Raben. Dari begitu banyak hal yang disebut, ada ssatu hal yang menjadi sebuah konfirmasi bagi saya yaitu bahwa kolonialisme di masa lalu adalah bagian dari identitas Bangsa Belanda. Wow...saya seperti melayang mendengar pernyataan ini karena merupakan konfirmasi dari pikiran dan pengalaman sehari-hari saya secara pribadi maupun profesional tetapi bentuknya masih kabur dan abstrak. Tapi begitu mendengar pernyataan dari Remco, ada kelegaan yang amat sangat dalam diri saya. Banyak kepingan puzzle yang tiba-tiba menemukan tempatnya yang pas dan cocok di kepala saya. Mungkin saya harus menulis buku untuk meruntut puzzle itu. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini apa isi puzzle itu karena merupakan akumulasi hidup dan pekerjaan saya. 

Hal lain yang menarik dari diskusi ini adalah audiens dari berbagai negara sehingga isi diskusinya sangat kaya perspektif dan luas sekali jangkauannya tanpa terjebak pada sentimen emosi pribadi tentang kolonialisme. Audiens yang heterogen meningkatkan kualitas jangkauan pemikiran. 

Semoga akan banyak lagi diskusi yang bagus seperti ini. 

Thursday, May 03, 2018

PETA ORGANISASI INDO DI BELANDA

Ketika saya dtang ke Belanda tahun 2005 saya berkenalan dengan istilah pusaka bersama (shared heritage atau gedeeltelijk erfgoed) dalam pekerjaan saya. Itu adalah istilah yang secara resmi dipakai di Belanda yang merujuk pada pengaruh dan peninggalan Belanda di negara-negara bekas jajahannya atau negara-negara yang pernah mempunyai hubungan dagang. Ternyata banyak juga negara dalam daftar yang berbagi pusaka dengan Belanda sehingga Belanda menetapkan 10 negara saja yang mendapat prioritas untuk kerjasama. Negara-negara itu adalah India, Sri Lanka, Indonesia, Jepang, Australia, Rusia, Afrika Selatan, Amerika (New York dulunya adalah New Amsterdam), Brazil dan Suriname.

Kerjasama dalam bidang pusaka bersama dengan Indonesia banyak sekali karena Indonesia adalah  negara bekas jajahan yang relatif besar dan lama hubungannya dengan Belanda di masa lalu. Tidak heran kalau banyak dan jelas sekali pengaruh dan peninggalan Belanda di Indonesia. Beberapa contoh kerjasama tersebut bisa dilihat di website Dutch Culture atau RCE (lembaga Belanda dalam bidang pelestarian pusaka). Itu adalah dua lembaga yang mengimplementasikan kebijakan pusaka bersama antara Belanda dengan ke sepuluh negara prioritas, selain dari kedutaan besar Belanda di negara masing-masing. 

Namun sebagaimana istilah pusaka bersama, sudah semestinya kebersamaan itu dimiliki oleh kedua pihak. Jadi bukan saja pengaruh dan peninggalan Belanda di Indonesia tetapi juga sebaliknya yaitu pengaruh dan peninggalan Indonesia di Belanda. Interaksi dua sisi. 

Kalau orang Indonesia ke Belanda pasti dengan mudah merasakan suasana ke-Indonesia-an itu ketika melihat banyaknya toko makanan dan restoran Indonesia. Atau ketika berbincang-bincang dan keluar kata-kata Bahasa Indonesia. 

Tapi kalau mau menggali lebih dalam sebenarnya pengaruh Indonesia di Belanda lebih dari hanya soal makanan dan bahasa. Ikatan politis dan sosial kedua negara terjalin dari eksisnya berbagai komunitas yang langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan Indonesia.



Baru-baru ini terbit buku "Een Indische Skyline: Indische Organisaties in Nederland Tussen 1980 en 2010" (Langit Indo: Organisasi Indo di Belanda antara Tahun 1980 dan 2010) karya Fridus Steijlen. Buku ini memberikan gambaran tentang organisasi, kelompok dan gerakan yang berkaitan dengan Indonesia atau lebih spesifik orang-orang yang terkena dampak sampingan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Klasifikasi dan pemilihan organisasi, kelompok dan gerakan dari kacamata Belanda oleh sebab itu kata yang dipakai dalam judul adalah "Indo" bukannya "Indonesia". Menarik untuk dibaca dan dipikirkan kembali.

Yang saya tidak temukan dalam buku ini adalah kelompok orang-orang Indonesia asli dan seratus persen berdarah Indonesia yang memilih tinggal di Belanda secara sukarela, tidak ada kaitannya dengan  akibat sampingan Proklamasi Indonesia, generasi yang tidak mengalami perang Revolusi dan juga bukan keturunan KNIL atau semacamnya. 

Mungkin kelompok Indonesia asli dan relatif muda ini tidak menarik untuk dibahas dari sudut pandang Belanda.  Namun karena DNA-nya Indonesia jadi mau tidak mau mengalami dan menyaksikan juga pengaruh dan peninggalan Indonesia di Belanda yang namanya pusaka bersama itu. Akan sangat menarik untuk menganalisa apa yang dipikirkan, diketahui dan dirasakan orang-orang Indonesia di Belanda tanpa sentimen masa lalu. 

Tuesday, May 01, 2018

SINGAPORE HERITAGE FESTIVAL 2018

This is a dream of mine about Indonesia. That one day there will be a heritage festival to showcase the country industrial heritage. Like in Singapore this year.



One of the program is showing the local sugar industry. Traditional snacks like the South Indian string hoppers, putu mayam, are often served with a generous helping of orange-coloured sugar. The sugar is processed at the Cheng Yew Heng Candy Factory in Senoko, Singapore, where it was first turned orange in the 1950s. The company started out producing preserved fruits and Chinese candies in 1947.

The Cheng Yew Heng is one of the biggest suppliers of refined sugar here, with 60 per cent of the market share and the only rock sugar manufacturer in Singapore.

The 15th edition of the Singapore Heritage Festival will take participants on a tour of the home-grown company to learn about the production process and "how the company manages to hit that sweet spot between tradition and change".

There will be guided tours of Jurong Town Hall - a symbol of Singapore's successful post-independence industrialisation programme. Sited on a hill, the futuristic building, reminiscent of a ship, was gazetted a national monument in 2015 .

 The monument will host an immersive roving performance by theatre group Sweet Tooth that takes visitors through the Jurong story with music, song and storytelling. Visitors will get the chance to interact with characters of Jurong's past. They include a rubber plantation worker and a soldier.

The festival also aims to showcase the eclectic mix of businesses and creative entrepreneurs in Jalan Besar. The programme includes guided architectural and food tours, and a market showcasing local talents including artists, designers and craftsmen. 

(Source: The Strait Times, Melody Zaccheus)

Monday, April 30, 2018

KAITAN CUACA BURUK DENGAN MUSEUM

Cuaca buruk (mendung, hujan, angin) identik dengan cuaca di Belanda. Kalau sedang cuaca buruk di hari Minggu enaknya main ke museum karena hangat dan kering. Apalagi pakai kartu museum masuk gratis. Untungnya di negara yang "hanya" sebesar Jawa Barat ini jumlah museum cukup banyak yaitu 694 museum. Jadi kalau mau tiap hari ke museum selama setahun penuh pun masih belum semua museum akan terkunjungi. Tidak heran kalau Belanda adalah negara dengan kepadatan museum tertinggi di dunia menurut perbandingan antara luas geografis dengan jumlah museum. 

Mumpung sedang bicara statistik, walaupun penduduknya hanya sekitar 16 juta tapi jumlah total pengunjung museum di Belanda adalah 34,4 juta orang. Jadi pengunjung museum lebih dari dua kali lipat populasi penduduknya karena banyak turis dan banyak juga warga lokal yang rajin bolak balik ke museum. 

Menurut saya resep kesuksesan museum di Belanda ( dan di negara-negara lainnya) adalah pertama-tama museum itu harus nyaman. Kenyamanan itu dari segi temperatur ruangan, kebersihan, fasilitas umum (tempat penyimpanan barang, kamar kecil, tempat duduk menunggu, kafetaria, restoran dan toko suvenir) serta pembagian ruangan dan arus pengunjung. Kalau parkir banyak museum yang tidak menyediakan tempat parkir di Belanda terutama di kota-kota besar karena aksesibilitas dengan kendaraan umum sangat baik. 

Jika faktor kenyamanan diutamakan, saya yakin museum-museum di Indonesia juga akan populer menjadi tujuan wisata. Memang banyak hal dari segi manajemen, program dan kebijakan yang perlu dibenahi tapi sebelum sampai ke hal-hal yang "njelimet" begitu, pihak pengurus museum bisa mulai dengan hal-hal yang praktis dulu seperti kenyamanan bagi pengunjung. Museum yang adem dingin, bersih tidak berdebu dan menyediakan fasilitas umum yang memadai dan profesional pasti akan menarik banyak pengunjung. Museum yang bikin betah. 

Minggu 29 April 2018 yang gelap, hujan dan angin tidak berhenti-henti, saya pakai untuk mengunjungi dua museum di Amsterdam, yang dekat rumah saja. Ramainya minta ampun tapi senang melihatnya karena memang museum harus ramai. 

Tropen Museum : Pameran tentang Perbudakan

Tropen Museum : Pameran tentang Body Art


Tropen Musem : Pameran tentang Fashion Cities Africa

Tropen Museum : Pameran tentang Afro Futurism

Tropen Museum : Workshop untuk Anak-anak

Tropen Museum : Enak kan di museum bisa duduk, tiduran, lari-lari...

Micropia : Museum tentang Bakteri dan Virus







Saturday, April 28, 2018

JOYFUL TRADITION

Many discussions about monarchy in the Netherlands but I think nobody objects that 27 April is an official national holiday to celebrate the birtday of the King (or before the Queen). 

I am fascinated to observe joyful atmospheres everywhere. People laugh, sing, dance, drink, eat, walk, repeat. The King's birthday might be accused as an excuse, but it is a good excuse to enjoy life. 








MAN-MADE NATURAL HERITAGE

When a country is relatively small and has limited natural resources, like the Netherlands, there must be something else has to explored. Tulip flower is one of them. Perseverance and professionalism show that everything is possible including attracting million of tourists each year to see this flower around April-May. 

I live 13 years in the country and 13 times cycling around the bulb fields of Tulip. It is an annual tradition. The magic of this man-made natural heritage is never diminished. 




Friday, April 27, 2018

RISE AND FALL OF SUGAR INDUSTRY IN INDONESIA


Sugar Factory Olean, Situbondo, East Java, Indonesia (Source: Het Rozenhuis)

The Sugar Industry in Java as shown during the International World Exhibition in 1910 in Brussels, Belgium (Source: J.W. Ramaer) 

Heritage hands-on is selected as one of the participants “Sharing and Collaborative: The Footprints of Asian Sugar Industrial Heritage” is a part of the international symposium on “Multilateral, Sharing and Collaborative: Developing a Common Vision of Asian Industrial Heritage.”

This event will take place in the Cultural & Creative Industries Park, Taiwan, 30th May – 31st August. The organizer is the Bureau of Cultural Heritage Ministry of Culture, Taiwan and it is implemented by National Yunlin University of Science & Technology Department of Cultural Heritage Conservation.

Heritage hands-on will present the exhibition about "Rise and Fall of Sugar Industry in Indonesia".  

In the 1930’s Indonesia was the world second largest sugar exporter in the world after Cuba. In 2016 Indonesia was and is the world second largest sugar importer in the world after the USA. How this could happens?

Many analysis tried to provide answers to the above question. This exhibition will show facts and figures as an objective answer to understand ups and downs of sugar industry in Indonesia. Those facts and figures help viewers as well to predict potential former sugar factories as part of industrial heritage in the country. It is huge and in abundance, tangible and intangible elements of sugar production world, entangled with economic, social, cultural and politics of Indonesia.

Currently, there are about 33 sugar factories older than 100 years and this fact assures that the industry can play an important role in raising awareness about industrial heritage in Indonesia. There is no doubt about what the sugar industrial heritage can contribute to the current education and economic development.

The exhibition consists of chronology of sugar industry emporium during the era of the Dutch East Indies and after Independence, supported by milestones in the sugar history as follow:

1.      Application of the Cultivation System
2.      Building of the Headquarter of Sugar State-Owned Enterprise (HvA)
3.      Publication of a book about anti-forced labor titled Max Havelaar
4.      Profile of Probolinggo, one of the former Sugar Towns in East Java
5.      The First Adaptive Reused of Former Sugar Factory Colomadu
6.    Sugar Industry in Java (as shown in the International World Exhibition 1910 in Brussels)
7.    Film about the Sugar Factory Olean (the only factory that still run steam engines)

This is a continuation of awareness efforts that Heritage hands-on has been doing since 2013 about industrial heritage in Indonesia. There are presentations and paperworks have been delivered in Europe and Asia including in Indonesia about assets and potentials industrial heritage that needs attentions before they fall aparts and disappears. 

Sumatra Heritage Trust (BWS) from Medan is also selected as participant of the exhibition in Taiwan 2018 showing theme of  Sugar Industry Development Project outside Java with a case study of history and details of daily life of Sei Semayang sugar cane plantations and sugar mills in Sumatra. 

Heritage hands-on would like to express gratitudes to many persons who have supported for the exhibition: Yulia Setja Atmadja, Krisnina Maharani A. Tandjung and Warna Warni Indonesia Foundation, Dr. Yuke Ardhiati, Obbe Norbruis, Pieter Veraart and Het Rozenhuis and Peter Timmer.





Thursday, April 26, 2018

KONTEMPLASI BATIN SEBUAH BANGSA

JP COEN, DAENDELS, VAN HEUTZ DI AMSTERDAM
(Source:  Wikipedia Common)



Rabu, 25 April 2018, di Rijksmuseum Amsterdam diadakan diskusi tentang kolonialisme oleh Stichting Deandels (Yayasan Deandels). Judul acaranya tentang patung-patung dan peninggalan masa kolonial di masa sekarang (Postkoloniale Beeldenstormen) tetapi isi diskusinya kemudian meluas kepada hal-hal terkait lain seperti isu perbudakan, kerja paksa, pengembalian koleksi museum dan tanggung jawab moral sebagai bangsa yang pernah menjadi penjajah. 

Gert Oostindie, Direktur KITLV, memberikan presentasi dan menjadi pembicara utama, didukung oleh tim panel yang terdiri dari profesional di bidang museum, pendidikan dan akademisi. 

Buat saya pribadi, hal yang baru adalah eksisnya Yayasan Daendels. Hebat sekali ya dengan imej Deandels yang begitu buruk dan hitam ternyata ada juga sisi lain yang masih bisa digali dan dipromosikan. Kedua, kesadaran yang muncul dalam diskusi bahwa sebagai negara yang pernah menjajah Belanda memang harus melewati proses kontemplasi batin yang panjang. Proses kontemplasi batin itu direalisasikan melalui banyak sekali diskusi, tulisan, buku, acara televisi, radio, penelitian, pembentukan institusi dan macam-macam lagi. Kalau mau didaftar bisa setiap hari dicatat ada saja acara atau berita yang muncul. 

Kadang-kadang saya membatin sendiri, bagaimana di Indonesia? Apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh bangsa Indonesia di tahun 2018 ini tentang masa penjajahan Belanda (dan Jepang dan negara-negara Eropa lain seperti Portugal, Inggris dan Spanyol)? Sudah melampau evaluasi batin yang tuntas? Sudah tenang dan menerima masa lalu dengan damai? Atau menutup mata, dan membuka lembaran baru saja?

Kontemplasi batin megenai kolonialisme akan indah kalau orang Belanda dan Indonesia duduk sama-sama. 

Wednesday, April 25, 2018

WELCOME YULIA!

Until June 2018 Heritage hands-on hosts Yulia Atmadja as an intern. Yulia is a promising young professional from Indonesia with an international orientation. 

Heritage hands-on is going to join an exhibition in Taiwan during the period of May-August 2018 about  “Sharing and Collaborative: The Footprints of Asian Sugar Industrial Heritage” and Yulia helps to design the exhibition materials. 

It is always inspiring to work together with a younger generation : full of spirit, a lot of ideas and open to the world. 

Tuesday, April 24, 2018

TAHUN PUSAKA EROPA 2018

Uni Eropa memperingati 2018 sebagai Tahun Pusaka Eropa. Initiatif ini mendorong kesadaran dan kerjasama antarnegara anggota Uni Eropa tentang identitas dan kekayaan budaya di Benua Eropa. Setiap negara anggota Uni Eropa mengorganisir berbagai kegiatan sepanjang tahun. Mungkin hal yang sama bisa menjadi inspirasi untuk Asia dengan berbagai macam asosiasi regionalnya seperti ASEAN.

Hal yang bisa menjadi inspirasi mungkin melihat berbagai macam foto dan video yang bebas untuk disebarluaskan melalui link ini.




Pusaka Teraga di Matura, Praha


Pusaka Tak Teraga di Irlandia 

Monday, April 23, 2018

LIGHT, AIR AND SPACE

Cornelis van Eesteren (Cor) (1897-1988) is the pioneer of modern architecture in the Netherlands. He is the generation mate of Le Corbusier. Cor was the Chairman of CIAM (International Congresses of Modern Architecture) from 1930 to 1947. One of his prominent works is the Amsterdam General Extension Plan which left its footprints until now in many parts of the city.

Last weekend, 22 April 2018, Van Eesteren Paviljoen in Amsterdam organized a presentation and a walk in the West of Amsterdam to learn about his works. I appreciated much of his thinking about rights of common citizens to light, air and space. Those elements are very essentials for quality of life and happiness of everyone and not only the happy few. 



TRANSFORMASI BEKAS PENJARA DI AMSTERDAM

Penjara "Bijlmerbajes" di Amsterdam yang dibangun tahun 1978 sudah mencapai tanggal kadaluarsanya. Para tahanan dipindahkan ke penjara baru yang lebih modern di luar kota dan bekas gedung penjara dijual. Luasnya 7,5 hektar dengan kapasitas 135 ribu meter persegi di dalam kota Amsterdam adalah tambang emas yang jadi impian setiap penanam modal. Lokasinya persis di samping jalur metro yang mencapai Centraal Station dalam waktu sekitar 10 menit dan stasiun Amstel yang jalur kereta apinya mencapai seluruh ujung negeri.  S-T-R-A-T-E-G-I-S. 

Tahun 2014 aset ini diiklankan akan dijual dan tahun 2016  aset ini sudah menjadi milik pihak swasta. Bagusnya semua proses penjualan diumumkan kepada publik melalui link ini. 

Pada tahun 2016-2017 bekas penjara Bijlmerbajes digunakan sebagai hunian sementara para pengungsi. Para pengungsi yang sudah mendapat status calon migran tetap di Belanda mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai kursus dan latihan agar siap masuk ke lapangan kerja dan berintegrasi dengan masyarakat Belanda. Berbagai kursus dan latihan itu dikelola oleh Refugee Company. Para pengungsi membuat aneka macam produk kreatif yang dijual untuk umum. Refugee Company juga membuka restoran dan cafe A Beautiful Mess sebagai tempat latihan di bidang hotel, cafe dan restoran. Selain itu para pengungsi juga mengelola hamam dan pop-up museum. Dalam waktu singkat tempat bekas penjara ini menjadi tempat yang populer untuk masyarakat Amsterdam sebagai tempat yang unik untuk minum kopi, menikmati makanan eksotik, mengapresiasi pertunjukan teater dan karya seni. Akhir tahun 2017 bahkan dibuka hotel di kompleks ini. 

Di awal tahun 2018 proses transformasi bekas penjara menjadi fungsi yang baru sudah akan dilaksanakan. Para pengungsi yang menghuni bekas penjara sudah dipindahkan ke rumah-rumah yang disediakan pemerintah. Namun kegiatan Refugee Company, restoran dan hotel masih jalan. 

Sabtu 21 April 2018 pihak swasta dan Pemkot Amsterdam memberi informasi kepada publik tentang apa yang dilakukan dengan bekas penjara Bijlmerbajes. Intinya kawasan yang namanya menjadi "Bajes Kwartier" (Kawasan Bajes) ini akan diubah menjadi kompleks hunian yang seimbang antara sosial dan komersial (30% hunian sosial dan 70% hunian komersil), unik dan ramah lingkungan. 

Unik karena nilai sosial historisnya bagi Kota Amsterdam. Nilai ini akan dilestarikan dengan cara menggunakan kembali  material bangunan yang dihancurkan dalam pembangunan gedung dan fasilitas yang baru.

Satu gedung penjara yang dilestarikan akan dijadikan semacam kebun vertikal untuk menanam produk-produk tanaman yang langka di Amsterdam.  Selain itu tempat ini juga dijadikan sentral pengolahan limbah buangan rumah tangga. 

Aspek budaya juga tidak dilupakan di sini. Kelompok seniman akan mempunyai kesempatan membuka galeri seni, mengelola sekolah desain dan museum.

Berita gembira adalah keinginan untuk memberi tempat pada para pengungsi untuk tetap beraktivitas di Bajes Kwartier. Setelah sekitar dua tahun membuka restoran dan cafe di sini, penduduk lama sudah merasa akrab dengan para penduduk baru Amsterdam, jadi kenapa tidak tinggal saja? 










Sunday, June 28, 2015

INDUSTRIAL HERITAGE IN INDONESIA

For more than 100 years the coal mining dominated the growing city of Sawahlunto, West Sumatra, Indonesia,  but the decline of the coal mining from 2001 on, forced the local government to search for alternative sources of income.
 
The year 2004 is a turning point of heritage conservation when several efforts have been taken to research an economic potential of former coal mining as a catalyst of city development. One of the efforts was a survey done by Dutch experts to identify and make an inventory of historical buildings and sites including the railway road.
 
In the following years, Sawahlunto Municipality has managed to transform the former coal mining into tourism attractions which stimulate other components such as accommodation and recreation facilities, local transportation network, revival of the railway road, opening of several museums and promoting the city through various mediums (films, books, postcards).

Nevertheless, a case of Sawahlunto is an exception in Indonesia with huge potentials of its industrial heritage inherited from the Dutch-Indies period. Most of these industrial heritage sites are under authority of the Ministry of State Owned Companies divided into 13 strategic sectors as follow:
  1. Agriculture, Forestry and Fishery
  2. Mining
  3. Processing Industry
  4. Electricity, Gas, Steam/Hot Water and Cooling System
  5. Water Supply, Waste Management and Recycle, Disposal of Waste and Garbage Processing
  6. Construction
  7. Major & Retail Trade, Reparation and Maintenance of Cars & Motorcycles
  8. Transportation and Storage
  9. Accommodations and Food & Beverage
  10. Information and Communication
  11. Financial Service and Insurance
  12. Real Estate
  13. Professional, Scientific and Technical Services
Some industrial sectors are in transitions to adjust themselves into modern era and some stay as they are since the Dutch-Indies period without being capable to keep up with current demands. Assets of these industrial sectors are in abundant from large area of plantations, factories and offices in urban areas. It is important to address this issue before these assets disappear unnecessarily of decay and neglection. 
 
The Pansumnet 2015 Gathering : Industrial Heritage at Stake will address issues of industrial heritage in Indonesia with a case study of Sawahlunto. During a three days gathering, experts, policy makers and researchers will exchange knowledge and experience how to get the best of industrial heritage potentials of Indonesia.
 
A case study of industrial heritage of Sawahlunto becomes main theme since it is not much discussed and applied yet in Indonesia. Many of industrial sites from the Dutch Indies period -mostly are plantations, mining and factories- face difficulties in adjusting themselves into modern times. There are a lot of questions from heritage networks in the country about this issue. How to find balance between conservation and economic benefit? What is the right way to reuse industrial site for current needs? What kind of expertise needed to explore an industrial site? Where to begin to exploit such a large industrial site?   

Friday, June 19, 2015

PAN-SUMATRA NETWORK FOR HERITAGE CONSERVATION (PANSUMNET)

Heritage movement in Sumatra started since 1998 with the establishment of Sumatra Heritage Trust in Medan, North Sumatra and Pan-Sumatra Network for Heritage Conservation or Pansumnet. There are 14 organizations join Pansumnet as institutional partners, they are from Aceh, Medan, Nias, Padang, Bangka Belitung, Bengkulu, Jambi, Riau,  Palembang and Lampung. Pansumnet is the only regional network that exists in Indonesia and becomes an example for other regions.
Pansumnet organizes  regional gatherings and trainings to maintain contacts and cooperation which normally attended also by heritage organizations from other areas in Indonesia and from neigbourhood countries in Southeast Asia like Malaysia and Singapore. Since its establishment, Pansumnet Gatherings and Trainings were held:
·         In 2000, Medan, North Sumatra
·         In 2001, Bangka, South Sumatra
·         In 2002, Padang, West Sumatra
·         In 2004, Bengkulu, Central Sumatra
·         A two years capacity building training with a start training in 2004 in Bukittinggi, West Sumatra and a closing in 2006 in Bangka, South Sumatra.
The regional gatherings and trainings play important roles in keeping heritage movements alive especially in the region and in Indonesia generally. They function as well as means to attract local young professionals to get involve and improve knowledge and capacity in dealing with challenges to save local heritage.
 
Up to now, development of heritage conservation in Sumatra has had a significant progress although it is far from perfection. Several cities have published local regulation with a  list of protected historical buildings, establish new museums, attract private investments and become active members of the Indonesian Heritage Cities Network.
 
Sustainability of the network is important and the more active stakeholders, the better for continuation because capacity and possibility are more available including from financial point of view. Members of Pansumnet are institutions that were established and survive without subsidies, like any other heritage societies in Indonesia. It is almost a natural understanding and logical consequence that everyone has to be able to generate its own funding. With this condition, Pansumnet members were able to organize previous gatherings. All previous gatherings were always funded partly by its members by mobilizing local resources. Local hosts managed to arrange financial and in-kind contribution for accommodation, meals, excursions and most logistic needs. Sometimes the gatherings were humble only for members and sometimes the gatherings were expanded with some extra programs.
 
In 2015 Pansumnet will gather again in Sawahlunto, West Sumatra. Hopefully this gathering will trigger leaderships for heritage movements in the region.