Wednesday, May 13, 2020

15 TAHUN DI BELANDA : INTEGRASI


Menjadi migran memperkaya wawasan dan pengalaman, tetapi juga menuntut penyesuaian lahir batin. Jika diibaratkan komputer, maka harus di-reset, diprogram kembali agar sesuai dengan sikon lokal. Nyaris semua hal terasa baru dan tidak menjadi sesuatu yang otomatis lagi sebagaimana di daerah asal kita. Bahkan hal sehari-hari pun seperti sosialisasi dengan tetangga atau menghadiri pertemuan menjadi tantangan tersendiri untuk memahami apa yang diharapkan dari perilaku dan pembicaraan kita. Apalagi semua interaksi dilakukan dalam bahasa asing, dalam kasus saya dalam Bahasa Belanda, yang pasti tidak sefasih penutur bahasa ibu.



Dalam hal pertemanan dan sosialisasi informal, mental kita relatif lebih rileks untuk berhadapan dengan situasi dan orang baru. Kalaupun ada hal-hal yang kaku atau salah, bisa dihadapi dengan humor. Bukan berarti mendapat teman baru mudah di Belanda. Mereka umumnya baik dan ramah tetapi makna teman berbeda dengan Indonesia. Makna teman di Belanda kira-kira sama dengan sahabat baik di Indonesia. Jadi tidak mudah untuk menjadi teman bagi orang Belanda dan sebaliknya. Tetapi kalau mau menjadi kenalan, tidak masalah. Teman di tingkat basa-basi begitu kira-kira. Selama 15 tahun di Belanda saya mendapat banyak kenalan. Teman? Beberapa.



Dalam situasi yang formal seperti lingkungan pekerjaan, penyesuaian diri lebih menantang. Di awal-awal saya semangat sekali melamar pekerjaan ke sana ke mari. Saya pikir saya punya latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sesuai dengan posisi yang saya lamar. Di Indonesia saya nyaris tidak pernah harus melamar pekerjaan, jadi tidak punya dokumen  riwayat hidup yang lengkap. Di Belanda, selain harus belajar membuat riwayat hidup dan surat lamaran, juga meraba-raba dalam rimba lapangan pekerjaan yang tersedia. Posisi yang menarik banyak, tetapi kendala bahasa cukup mengerikan. Kedua, saya sangat polos berpikir bahwa saya memahami ruang lingkup deskripsi pekerjaannya. Untuk konteks Indonesia mungkin benar, tetapi untuk konteks Belanda sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Saya sering mendapat surat penolakan yang mengatakan bahwa kualifikasi saya terlalu tinggi untuk posisi yang dilamar. Saya belum pernah mendengar alasan begini di Indonesia. Jadi pendidikan tinggi ada sisi negatifnya juga di Belanda karena sulit melamar untuk posisi-posisi manajemen menengah ke bawah seperti asisten misalnya. 

Lama-kelamaan saya belajar dari sekeliling saya untuk mencari pekerjaan melalui uitzendbureau, biro tenaga kerja. Betul saja, minggu ini melamar, dua minggu kemudian sudah bisa mulai bekerja. Posisinya di bawah kualifikasi pendidikan dan pengalaman saya, tetapi sebagai tahap awal integrasi ke lapangan pekerjaan di Belanda sudah cukup baik dan menjanjikan. 

Dalam hal berinteraksi, hal yang menyenangkan adalah sifat egalitarian orang Belanda, terlepas dari latar belakang dan posisi, umumnya kita diperlakukan secara setara.  Gengsi-gengsian juga relatif  kurang berlaku di sini. Beberapa pejabat tinggi seperti walikota, menteri sampai perdana menteri naik sepeda ke kantor. Penampilan dalam hal pakaian juga jauh lebih simpel dibanding Indonesia. Pegawai pemerintah boleh pakai jeans ke kantor. Filosofi di belakang ini semua adalah sifat orang Belanda yang "nuchter" artinya seadanya sesuai akal sehat dan keperluan, tidak mengada-ada. Sifat ini diterapkan dimana-mana, termasuk dalam pembuatan kebijakan dan penerapannya. Misalnya mengutamakan pejalan kaki, pengendara sepeda, kendaraan umum, baru kemudian mobil. Itu kan kebijakan yang manusiawi dan logis, tidak mengada-ada.



No comments: