Thursday, May 07, 2020

15 TAHUN DI BELANDA: BAHASA

Ketika saya menunggu dikeluarkannya izin tinggal sementara oleh Kedubes Belanda di Jakarta tahun 2004, saya mengambil kursus Bahasa Belanda selama tiga bulan. Lumayan untuk berkenalan dengan tata bahasa dasarnya. Ketika sampai di Belanda, menunggu sekitar setengah tahun untuk mulai kursus Bahasa Belanda sebagai bagian dari kursus berintegrasi dengan masyarakat Belanda (inburgering cursus). Jadi yang dipelajari bukan hanya bahasa tapi juga soal-soal lain yang esensial kehidupan sehari-hari seperti sejarah, kesehatan, tata cara berinteraksi, dan lain-lain. Tahun 2005 ini kursus wajib untuk imigran dan semua biaya ditanggung pemerintah. 

Belajar sebuah bahasa yang baru pada umur 40 tahun lain rasanya dengan belajar bahasa ketika masih umur 20 tahunan. Dibutuhkan enerji ekstra untuk menghafalkan kata-kata yang baru. Untungnya saya tinggal di negara penutur Bahasa Belanda jadi proses belajarnya relatif cepat. 

Mevrouw Loek dengan Dian
Selain kursus resmi di CEC (Cultureel Educatief Centrum-Pusat Pendidikan Kebudayaan) , saya mendaftar ke Gilde Amsterdam untuk latihan percakapan dengan sukarelawan penutur asli Bahasa Belanda. Sukarelawan yang ditunjuk untuk membantu saya namanya Loek Smeet, seorang biolog yang sudah pensiun mengajar dan tinggalnya dekat rumah saya. Prinsipnya memang anak didik dan guru harus tinggal berdekatan agar mudah bertemu. Maka kami janjian pertama kali bertemu di taman bermain Ganzenhoef, Amsterdam. Saya jadi bisa sekalian mengasuh anak yang waktu itu umurnya tiga tahun. Saya kira saya mengerti hari dan jam janji melalui telepon itu, ternyata saya salah mengerti. Untung pertemuan berikutnya berjalan lancar. Mevrouw Loek tidak berbahasa Inggris sama sekali sekalipun saya setengah mati susahnya mencari kata-kata Bahasa Belanda. Ini guru bahasa yang bagus. Program Gilde Amsterdam berjalan sekitar satu tahun tapi pertemanan kami berjalan terus sampai sekarang, 15 tahun kemudian. Tahun ini Mevrouw Loek genap berusia 80 tahun. 

Hal lain yang saya lakukan adalah melamar magang di kantor Pemkot Amsterdam bagian Tenggara (Amsterdam Stadsdeel Zuidoost). Ketika itu saya sudah tinggal sekitar 11 bulan di Belanda, sudah bisa bicara dalam Bahasa Belanda sedikit-sedikit. Tugas saya adalah meng-update database para migran wajib kursus integrasi. Bekerja di lembaga yang asli Belanda, bukan lembaga internasional, mengekspos saya pada Bahasa Belanda secara intensif.

Di rumah saya juga meminta suami untuk berbahasa Belanda dengan saya. Jawaban saya belepotan tidak apa-apa, yang penting latihan.

Tahun 2006 saya lulus kursus integrasi dn kursus bahasa dengan baik. Ijazahnya ditandatangani oleh Walikota Amsterdam yang saya kagumi waktu itu, Job Cohen, jadi saya senang sekali. Sesudah tahap awal ini dilalui, kehidupan yang sesungguhnya di luar sana sudah menunggu. Mencari kerja dan berintegrasi dengan kehidupan lokal. 

Sekarang, 15 tahun kemudian, Bahasa Belanda saya masih jauh dari sempurna tetapi saya sudah merasa nyaman memanfaatkannya untuk pekerjaan (mengikuti pertemuan, menulis surat, dan lain-lain) dan untuk membaca buku-buku serta arsip tentang Belanda maupun tentang Indonesia. Sebagai pekerja di bidang heritage asal Indonesia, banyak sekali manfaatnya memahami Bahasa Belanda. Kadang-kadang saya merasa overwhelmed dengan begitu banyaknya arsip tentang Indonesia. Seandainya saja, seandainya saja semua informasi itu bisa disebarluaskan juga di Indonesia. 


Dian dan saya di Volendam

No comments: