Tuesday, May 05, 2020

15 TAHUN DI BELANDA: PEKERJAAN

Pada musim dingin 2005 saya pindah secara permanen ke Belanda karena pernikahan. Tetapi sebetulnya affair saya dengan Belanda sudah dimulai sejak tahun 1999 ketika muncul artikel di koran de Volkskrant edisi Sabtu, 23 Januari tentang Badan Warisan Sumatra (BWS). Artikel dua halaman penuh dengan alamat email saya sehingga membuka pintu persahabatan dengan beberapa orang Belanda yang secara pribadi mempunyai ketertarikan pada Medan dan Indonesia. Sejak itu saya diundang secara regular oleh beberapa institusi di Belanda, diantaranya NAi dan ICOMOS. Kalau saya bepergian ke belahan dunia lain yang melewati Eropa, saya juga selalu transit di Belanda.

Tiba di  Bandara Schiphol, Belanda, tahun 2005
Keluarga di Belanda, 2020

Sebagai orang Indonesia yang minat dan bekerja di bidang heritage, Belanda adalah surga karena arsip tentang Indonesia banyak di sini. Tapi sebelum bisa baca arsip, belajar Bahasa Belanda dulu. Jadi tahun pertama dan kedua saya kursus Bahasa Belanda dan kursus berintegrasi dengan masyarakat Belanda (inburgering cursus). Tahun 2006 kursus ini sifatnya wajib dan seluruh biaya ditanggung pemerintah. Pada saat yang sama saya juga melamar untuk magang di Pemkot Amsterdam bagian Tenggara namanya Stadsdeel Zuidoost sebagai asisten yang membantu-bantu memelihara basis data para imigran yang wajib kursus integrasi. Bahasa Belanda masih belepotannya minta ampun tapi belajar bahasa sambil menyelam langsung ke dalam kolam begini adalah cara yang cepat dan efektif. 

Cara lain untuk berintegrasi dengan cepat dengan masyarakat Belanda yang saya lakukan adalah melakukan pekerjaan sampingan, beberapa jam saja setiap minggunya, tetapi saya bisa mempraktekkan Bahasa Belanda, belajar tentang kontrak kerja, dan dapat uang saku. Pekerjaan sampingan yang pernah saya lakukan misalnya mengisi kodepos di komputer Post NL pada periode Natal dan Tahun Baru. Musim dingin, bekerja mulai jam 06.00 pagi dan lokasinya di ujung kota bagian Barat Amsterdam. Kalau berangkat masih gelap dan sepi sekali. Pekerjaan sampingan lain adalah membersihkan kantor pada sore hari setelah jam kantor. Kalau yang ini dekat rumah dan bisa naik sepeda sekitar seperempat jam. Saya dididik berdisiplin oleh dua orang tua dengan latar belakang militer jadi membersihkan kantor bukan hal yang sulit. Yang sebenarnya lebih perlu latihan adalah menurunkan ego diri sendiri. Pekerjaan terakhir saya di Indonesia adalah konsultan UNDP Jakarta untuk urusan Kota Berkelanjutan, tinggal di Jakarta sambil menunggu izin tinggal keluar dari Kedubes Belanda. Betapa kontrasnya antara membersihkan toilet kantor dan konsultan lembaga internasional. Pekerjaan sampingan lain yang saya lakukan adalah bekerja di katering untuk rumah sakit mempersiapkan makanan untuk para pasien. Semua pekerjaan sampingan ini sangat berharga untuk belajar rendah hati dan berintegrasi dengan masyarakat Belanda.

Ketika Bahasa Belanda saya sudah agak lancar, saya melamar kerja kantoran jadi asisten di sebuah perusahaan farmasi internasional. Tahun 2007 mencari pekerjaan kantor masih gampang. Hari ini melamar, dua minggu kemudian sudah bisa mulai kerja. Ini juga sebetulnya pekerjaan sampingan tapi kontraknya lebih permanen dan pekerjaannya lebih rutin. Saya masih punya sisa tenaga dan enerji untuk minat saya yang sesungguhnya, yaitu heritage.

Kalau minat dan semangat di bidang heritage saya salurkan dengan memikirkan apa yang saya bisa pelajari dari gerakan pelestarian di Belanda yang akan bermanfaat di Indonesia. Ide pertama saya membuat usulan kerjasama di bidang pendidikan warisan budaya (heritage education). Itu masih tahun 2007 ketika semua rasanya masih mudah. Proposal diajukan kepada jejaring saya di Belanda, tidak lama kemudian saya dikabari bahwa Kemendikbud Belanda bersedia mendanai untuk kerjasama dengan Indonesia selama dua tahun, 2008-2010. 

Setelah itu usulan demi usulan berjalan terus satu persatu. Saya menyadari bahwa gerakan heritage di Indonesia memerlukan banyak inspirasi, termasuk dari Belanda. Bukan untuk di copy paste, tetapi untuk gagasan bagaimana mencari manfaat dan adaptasinya sesuai konteks lokal Indonesia. Informasi detail mengenai usulan-usulan kerjasama antara Indonesia dan Belanda yang pernah dan masih berjalan sampai saat ini bisa dilihat melalui website saya : https://www.heritage-hands-on.org/

Antara tahun 2006-2007 saya mendapat kesempatan untuk mengikuti fellow program bernama Stepping Stones yang diadakan oleh Kemendikbud Belanda untuk beberapa migran yang bekerja di bidang heritage. Setiap peserta mendapat mentor dari institusi heritage dan boleh bertanya apa saja. Program yang bagus tapi akan lebih bagus lagi kalau seusai program disalurkan ke berbagai lembaga yang terlibat. Mencari pekerjaan di bidang heritage untuk migran relatif sulit karena heritage berkaitan dengan konteks lokal dari segi sejarah, dan peraturannya. Mungkin ada satu atau dua kekecualian, tetapi belum pernah ada lamaran yang berhasil diterima oleh lembaga heritage di Belanda.  

Salahsatu angkatan mahasiswa yang saya ajar di Amsterdam
Di samping itu saya juga melamar sebagai dosen tamu untuk bidang heritage management di Reinwardt Academie, Amsterdam. Saya mengajar antara tahun 2007 hingga tahun 2017. Saya sangat senang belajar bersama-sama dengan para mahasiswa S2 asal berbagai negara. Mereka muda, semangat dan kreatif. 

Sumber: www.entoen.nu
Di sela-sela pekerjaan kantor dan proyek kerjasama Indonesia-Belanda, saya juga sesekali diminta menjadi penterjemah. Salahsatu dokumen penting yang saya terjemahkan adalah Kanon Sejarah Belanda. Ini adalah 50 peristiwa penting dalam perjalanan Belanda sebagai sebuah bangsa. Saya menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia karena banyak migran asal Indonesia di Belanda. Ini hasilnya : https://www.entoen.nu/id/

Pada periode 2019-2020 saya diminta menjadi anggota Dewan Kebudayaan Belanda untuk Komisi Koleksi Kolonial. Tugas komisi ini untuk merumuskan usulan kepada Menteri Dikbud Belanda tentang kebijakan Belanda mengenai koleksi museum yang berasal dari negara-negara bekas jajahan, termasuk Indonesia.

Selain itu pada tahun 2019 saya merasakan kebutuhan untuk memikirkan apa yang masih menjadi kerisauan saya dari situasi gerakan heritage di Indonesia. Jawabannya adalah nasib para aktivis heritage. Generasi muda yang idealis, semangat dan berdedikasi untuk melestarikan warisan budaya bangsa namun harus bertahan hidup dengan cara masing-masing, tanpa bisa mengandalkan penghargaan nominal sebagai pekerja heritage. Saya ingin belajar bagaimana mengatasi situasi ini. Universitas Leiden bersedia untuk mengakomodasi kegelisahan saya. Sekarang masih dalam tahap pengembangan gagasan penelitian S3. Jalan masih panjang dan saya yakin akan berliku, akan saya jalani saja semampunya.  

Dalam perjalanan 15 tahun tinggal di Belanda dan berusaha menyalurkan minat saya di bidang heritage khususnya kerjasama kedua negara antara Belanda dan Indonesia, saya fokus pada peningkatan kapasitas untuk penggiat dan peminat heritage di Indonesia. Jika kapasitas pelaku heritage di Indonesia meningkat, pengetahun maupun pengalaman, maka pengambilan keputusan juga akan membaik. Memperkenalkan ide-ide baru tidak selalu mudah karena perubahan dalam sistem heritage membutuhkan penyesuaian dari banyak pihak, dan juga membutuhkan waktu. Saya percaya setiap bibit yang baik akan tumbuh dengan baik sekalipun dalam waktu yang lama. Yang paling penting adalah memelihara niat baiknya itu. 

No comments: